Lima Tahun IA-CEPA, NIlai Perdagangan RI-Australia Tembus Rp235 Triliun

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti. Foto: Metrotvnews.com

Lima Tahun IA-CEPA, NIlai Perdagangan RI-Australia Tembus Rp235 Triliun

Muhammad Reyhansyah • 13 July 2026 19:24

Jakarta: Nilai perdagangan Indonesia dan Australia meningkat hampir dua kali lipat sejak Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) mulai berlaku pada 2020. 

Dalam lima tahun terakhir, nilai perdagangan kedua negara naik dari USD7,2 miliar atau senilai Rp130,24 triliun menjadi sekitar USD13 miliar atau Rp235,17 triliun pada 2025, dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 10,68 persen per tahun.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mengatakan capaian tersebut menunjukkan hubungan ekonomi Indonesia dan Australia terus menguat sejak IA-CEPA diberlakukan pada 5 Juli 2020.

"Sejak IA-CEPA mulai berlaku pada 5 Juli 2020, hubungan ekonomi bilateral kita terbukti semakin kuat dan terus tumbuh. Perdagangan barang mencatat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 10,68 persen. Jika dibandingkan antara 2020 dan 2025, nilai perdagangan meningkat dari USD7,2 miliar menjadi sekitar USD13 miliar," kata Roro dalam peluncuran Program Katalis 2.0 di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

Roro menambahkan, nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2024 juga mencapai sekitar 35,4 miliar dolar Australia. Menurutnya, tren positif tersebut menjadi landasan bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat implementasi IA-CEPA melalui peluncuran Program Katalis 2.0.

"Hari ini bukan sekadar peluncuran program baru. Ini merupakan penegasan kembali atas komitmen bersama untuk mengubah berbagai peluang yang diciptakan IA-CEPA menjadi manfaat ekonomi yang nyata bagi dunia usaha, tenaga kerja, dan masyarakat di kedua negara," ujarnya.

Menurut Roro, Katalis 2.0 dirancang untuk menyelaraskan implementasi IA-CEPA melalui kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan sehingga manfaat perjanjian tersebut dapat dirasakan secara lebih luas.

"Tujuan Katalis 2.0 adalah memperkuat implementasi IA-CEPA melalui kolaborasi praktis antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan," katanya.

Keberhasilan Katalis 1.0

Ia menambahkan, keberhasilan Katalis 1.0 selama lima tahun terakhir menjadi fondasi bagi pelaksanaan fase kedua program tersebut. 

Program tersebut dinilai berhasil memperluas akses pasar, mendorong kemitraan bisnis yang berkelanjutan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memfasilitasi dialog kebijakan, serta memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis.

"Dalam lima tahun terakhir, Katalis 1.0 menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi yang dirancang dengan baik mampu menjembatani kebijakan dan implementasi," ujar Roro.

Menurutnya, Katalis 1.0 juga memperkuat kerja sama di sektor agripangan, layanan kesehatan, ekonomi digital, pariwisata, manufaktur maju, hingga ekonomi hijau. 

Berbekal capaian tersebut, Indonesia dan Australia melanjutkan kemitraan melalui Katalis 2.0 untuk mendorong peningkatan perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif pada periode 2026–2031.

(Fajar Nugraha)