Bendera Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu Agency)
AS dan Iran Saling Ancam di Tengah Rapuhnya Kesepakatan Gencatan Senjata
Willy Haryono • 12 July 2026 12:15
Teheran: Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan ancaman di tengah memanasnya kembali konflik antar kedua negara belakangan ini.
Sabtu kemarin, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei berjanji akan membalas kematian ayahnya sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel awal tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran apabila terjadi upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Dikutip dari France 24, Minggu, 12 Juli 2026, ketegangan antara kedua negara kembali meningkat setelah aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir mengguncang kesepakatan sementara yang sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Perang tersebut pecah pada akhir Februari setelah serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel menewaskan Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer Iran lainnya.
"Dendam adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan," kata Mojtaba Khamenei dalam pesan tertulis yang dirilis pada upacara penghormatan bagi ayahnya.
Menurutnya, pelaksanaan pembalasan tersebut tidak bergantung pada keberadaan dirinya maupun pejabat Iran lainnya.
"Apakah kami masih ada atau tidak, hal itu akan tetap terjadi," tulisnya dalam pesan publik pertamanya sejak pemakaman Ali Khamenei pekan ini.
Mojtaba juga menyatakan Iran telah menyusun daftar individu yang akan menjadi sasaran pembalasan, meski tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai identitas pihak-pihak tersebut.
Absennya Mojtaba Khamenei
Pemimpin baru Iran itu belum pernah terlihat di depan publik sejak sebelum perang pecah dan dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya.Beberapa jam sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social memperingatkan bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap dirinya akan memicu respons militer besar dari Amerika Serikat.
"Seribu rudal telah siap dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya akan segera menyusul apabila pemerintah Iran melaksanakan ancamannya untuk membunuh atau mencoba membunuh Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat," tulis Trump.
Trump juga menyatakan militer Amerika Serikat telah menerima instruksi untuk melancarkan serangan yang dapat "menghancurkan sepenuhnya" Iran apabila skenario tersebut terjadi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah mediator regional terus berupaya menghidupkan kembali jalur diplomasi antara kedua negara.
Media Iran melaporkan sebuah delegasi dari Qatar mengunjungi Teheran pada Jumat untuk memperkuat peran Doha sebagai mediator dalam konflik tersebut.
Trump sebelumnya mengatakan pembicaraan dengan Iran akan tetap dilanjutkan meski ia menyebut proses negosiasi tersebut sebagai "pemborosan waktu".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran telah memenuhi seluruh kewajibannya dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani bulan lalu.
"Yang dapat terjadi hanyalah kepatuhan timbal balik," ujar Araghchi.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Amir Saeid Iravani juga menegaskan negaranya masih berkomitmen terhadap kesepakatan tersebut.
Namun, menurutnya, Iran tidak akan lagi merasa terikat untuk memenuhi kewajibannya apabila Amerika Serikat terus melanggar ketentuan yang telah disepakati dalam MoU tersebut.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Janji Balas Kematian Ayahnya