BGN Hitung Ulang Anggaran MBG

Ilustrasi petugas saat menyiapkan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Rubby Jovan

BGN Hitung Ulang Anggaran MBG

Achmad Zulfikar Fazli • 7 August 2026 22:35

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menghitung ulang kebutuhan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 dari alokasi sebelumnya Rp268 triliun. Penyesuaian dilakukan bersamaan dengan pembenahan data penerima manfaat, tata kelola program, dan skema insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kalau angka sementara ini mungkin saya belum bisa sebutkan, tapi yang jelas sudah tidak Rp268 triliun, sudah jauh berkurang,” kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari dalam keterangannya, Jakarta, dikutip pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Salah satu komponen yang dievaluasi adalah pemberian insentif SPPG Rp6 juta per hari dengan nominal sama. Menurut Agustina, skema tersebut belum mencerminkan perbedaan kapasitas layanan, jumlah penerima manfaat, dan beban operasional masing-masing SPPG.

“Ada yang cakupannya lebih besar, kok disamaratakan Rp6 juta? Kan enggak fair. Nah, itu skema-skema yang akan kami perbaiki,” ujar Agustina.

Namun, efisiensi tidak hanya dimaknai sebagai pengurangan anggaran, tetapi juga penataan belanja agar lebih proporsional, tepat sasaran, dan adil bagi setiap SPPG. Di samping itu, penyesuaian pada biaya operasional perlu dipisahkan dari anggaran bahan pangan agar tidak mengurangi kualitas gizi penerima manfaat.

Di tengah pembenahan tersebut, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University Hardinsyah menawarkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai salah satu cara menjaga kualitas menu MBG dengan biaya terjangkau.

Menurut Hardinsyah, makanan bergizi tidak selalu membutuhkan bahan pangan mahal. Dengan komposisi dan pengadaan yang dikelola secara cermat, biaya bahan baku untuk satu porsi makanan anak sekolah dapat ditekan hingga sekitar Rp7 ribu.

“Kalau anak-anak itu 75 gram beras. Kalau harga beras Rp15 ribu sekilo, 100 gram cuma Rp1.500. Kemudian kalau pakai telur, katakan Rp2 ribu satu butir,” ungkap Hardinsyah.

Menu tersebut kemudian dilengkapi dengan sayuran, buah, dan sumber protein nabati seperti tahu atau tempe.

“(Nominal) Rp1.500 ditambah Rp2 ribu itu Rp3.500. Sayur Rp500 jadi Rp4 ribu, kemudian buah. Tapi telurnya tidak cukup, perlu tambah tahu atau tempe untuk protein nabatinya,” jelas Hardinsyah.

Ilustrasi Makan Bergizi Gratis. Metrotvnews.com/Siti Yona


Satu potong tempe berukuran sekitar 40–50 gram diperkirakan berharga Rp1.500. Setelah ditambah buah, total kebutuhan bahan baku berada di kisaran Rp7 ribu per porsi.

Namun, Hardinsyah mengingatkan l angka tersebut baru mencakup bahan pangan. Pelaksanaan MBG tetap membutuhkan biaya bumbu, minyak, tenaga kerja, peralatan, pengelolaan dapur, dan distribusi.

“Biaya yang mahal itu biasanya peralatan dan operasional tempatnya,” kata Hardinsyah.

Bahan Lokal Jadi Kunci Efisiensi


Hardinsyah menilai penggunaan bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu kunci efisiensi MBG. Setiap daerah memiliki pilihan sumber protein, sayuran, dan buah-buahan yang dapat digunakan tanpa bergantung pada produk impor.

“Banyak sekali sayuran hijau di daerah. Tidak hanya bayam, kangkung, sawi, dan kol, tetapi banyak jenisnya, tergantung daerah,” ujar Hardinsyah.

Pemanfaatan bahan pangan lokal dan rantai pasok yang lebih pendek dapat membantu menekan biaya distribusi, menjaga kesegaran makanan, serta membuka peluang ekonomi bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM di sekitar SPPG.

Kombinasi antara pembenahan tata kelola BGN, insentif SPPG yang lebih proporsional, serta optimalisasi bahan pangan lokal dapat menjadi jalan menjaga keberlanjutan MBG. Efisiensi anggaran harus ditempatkan sebagai upaya memperbaiki sistem tanpa mengurangi porsi, keamanan pangan, dan kualitas gizi yang diterima anak.

(Achmad Zulfikar Fazli)