Presiden Prabowo Subianto mencoba menu makanan bergizi gratis. Sumber: BPMI Setpres
Bakom: Negara Menempatkan Karakter Anak Muda jadi Titik Awal Kemajuan
Achmad Zulfikar Fazli • 28 October 2026 19:55
Jakarta: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan mengatakan mencetak generasi unggul tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda untuk bermimpi besar. Pemerintah menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan.
“Negara menempatkan karakter anak muda sebagai titik awal kemajuan. Pemerintah membentuk generasi yang tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan tidak runtuh saat gagal. Negara membuka jalan agar pemuda berani bermimpi setinggi langit dan bekerja sekeras mungkin sampai memberi yang terbaik bagi bangsa,” ujar Syahganda, dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Oktober 2026.
Syahganda mengatakan komitmen tersebut tercermin dalam sejumlah program yang dirancang untuk menjangkau kebutuhan generasi muda di berbagai tahap kehidupan. Mulai dari memastikan anak tumbuh sehat, membuka akses pendidikan yang lebih merata, menghadirkan ruang belajar yang layak dan modern, hingga membekali lulusan baru dengan pengalaman kerja serta peluang menembus pasar global.
MBG Fondasi Membangun Generasi Unggul
Pembangunan generasi unggul dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk gizi. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah berupaya mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti proses pendidikan.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 9 Oktober 2026, program MBG telah menjangkau 57,5 juta penerima melalui 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penerima manfaatnya terdiri atas 46,2 juta peserta didik, 3,9 juta pendidik dan tenaga kependidikan, serta 7,4 juta kelompok rentan, meliputi 4,9 juta balita, 1,8 juta ibu menyusui, dan 700 ribu ibu hamil.
Pemerintah menargetkan jangkauan program ini meningkat menjadi 72,4 juta penerima pada 2027. Dengan cakupan tersebut, MBG menjadi salah satu upaya memastikan kebutuhan gizi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi mereka.
Sekolah Rakyat Membuka Kesempatan Setara
Pemerintah juga memperluas kesempatan belajar melalui program Sekolah Rakyat. Program ini membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin, sekaligus membantu mengurangi beban orang tua yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi.
Per 23 September 2026, Sekolah Rakyat beroperasi di 182 titik, dengan lebih dari 90 lokasi menempati gedung permanen dan melayani sekitar 44 ribu siswa.

Presiden Prabowo Subianto. Dok. Setpres
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 150 ribu siswa pada 2027. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat permanen hingga 2029.
Melalui skema pendidikan berasrama, siswa tidak hanya memperoleh kesempatan belajar, tetapi juga dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak dapat bersekolah tanpa harus terbebani biaya pendidikan, makan, maupun tempat tinggal.
Revitalisasi Sekolah Menghadirkan Ruang Belajar Lebih Layak
Upaya memperluas akses pendidikan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas sarana pendidikan. Pemerintah melakukan revitalisasi sekolah untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun guru.
Sepanjang 2025, sebanyak 16.167 sekolah direvitalisasi. Sementara itu, revitalisasi terhadap 11.744 sekolah pada 2026 telah berjalan sekitar 70 persen. Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, target revitalisasi diperluas menjadi 71.744 sekolah.
Digitalisasi Pendidikan Memperluas Akses Pembelajaran Modern
Pemerintah juga mendorong pembelajaran yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi melalui program digitalisasi pendidikan. Sepanjang 2025, papan interaktif digital telah didistribusikan ke 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pada 2026, setiap sekolah menerima tambahan tiga unit, dengan sasaran empat ruang kelas di setiap sekolah dilengkapi papan interaktif digital.
Kehadiran teknologi di ruang kelas diharapkan membantu guru menyampaikan materi dengan lebih interaktif dan memudahkan siswa memahami pelajaran. Proses belajar pun menjadi lebih menarik, sekaligus mendorong siswa terbiasa memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan.
Dengan dukungan tersebut, anak-anak Indonesia di berbagai wilayah diharapkan memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan yang semakin setara untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Magang Nasional Menjembatani Lulusan Baru ke Dunia Kerja
Setelah fondasi pendidikan diperkuat, perhatian pemerintah berlanjut pada transisi lulusan baru menuju dunia kerja.
Melalui Program Magang Nasional, pemerintah berupaya menjawab persoalan yang kerap dihadapi pencari kerja pemula, perusahaan membutuhkan pengalaman, sementara lulusan baru membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman tersebut.
Program magang selama enam bulan dengan uang saku dari negara ini ditargetkan menjangkau 100 ribu peserta pada 2025 dan meningkat menjadi 150 ribu peserta pada 2026. Peserta menerima uang saku setara upah minimum kabupaten/kota serta sertifikat kompetensi sebagai bekal memasuki pasar kerja.
Hasil program tersebut juga mulai terlihat dari penyerapan tenaga kerja. Sekitar 30 ribu peserta program magang 2025 telah direkrut menjadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang.
SMK Go Global Membuka Peluang Karier hingga Mancanegara
Peluang pengembangan talenta muda juga diperluas hingga pasar kerja internasional melalui program SMK Go Global. Presiden menjalankan program ini untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang dapat bekerja ke luar negeri melalui jalur yang legal dan aman.
Sejak pendaftaran dibuka pada 12 Agustus 2026, program tersebut menjangkau 7.239 peserta dari target 40 ribu orang pada tahun ini.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 talenta hingga 2029, yang terdiri atas 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu masyarakat umum.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan karier bagi generasi muda Indonesia. Dengan pembekalan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar kerja dan persiapan yang memadai, lulusan pendidikan vokasi diharapkan mampu bersaing di tingkat internasional.
Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan pendekatan pembangunan generasi muda yang menyeluruh. Pemerintah tidak hanya berupaya memastikan anak-anak tumbuh sehat dan memperoleh pendidikan, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran, memperkuat kompetensi lulusan, serta membuka akses terhadap kesempatan kerja di dalam maupun luar negeri.