Konflik Yaman Kembali Memanas, Hampir 16 Ribu Orang Mengungsi dalam Sepekan

Hampir 16.000 orang mengungsi di Yaman dalam seminggu di pekan terakhir September 2026. (Anadolu Agency)

Konflik Yaman Kembali Memanas, Hampir 16 Ribu Orang Mengungsi dalam Sepekan

Willy Haryono • 29 September 2026 06:38

Jenewa: Hampir 16.000 orang mengungsi di Yaman dalam sepekan terakhir akibat situasi keamanan yang terus memburuk di sepanjang pantai barat dan wilayah selatan negara tersebut, kata Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Senin, 28 September 2026.

Dalam pernyataannya, badan migrasi PBB tersebut mengatakan sebanyak 145.308 orang atau 24.218 rumah tangga telah mengungsi di delapan provinsi sejak pertempuran meningkat di pantai barat pada Juni.

Jumlah tersebut bertambah 15.870 orang atau lebih dari 12 persen antara 21 September hingga Senin.

“Setiap pekan, kami menghitung ribuan orang lagi yang meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki,” kata Kepala Misi IOM di Yaman Abdusattor Esoev.

“Di balik angka-angka ini ada orang tua yang berusaha menjaga anak-anak mereka tetap aman, orang lanjut usia yang tidak dapat melakukan perjalanan jauh, dan keluarga yang sejak awal hanya memiliki sedikit,” lanjutnya.

“Mereka membutuhkan bantuan sekarang, dan respons kami harus bergerak secepat mereka,” ujar Esoev, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Provinsi Taiz menampung jumlah pengungsi terbesar, yakni 81.444 orang atau lebih dari separuh total pengungsi secara nasional, menurut IOM. Jumlah tersebut meningkat sekitar 8.000 orang dibandingkan sepekan sebelumnya.

Lahj menampung 34.860 pengungsi, disusul Aden sebanyak 12.456 orang, Al Hudaydah 8.244 orang, Abyan 5.568 orang, Hadramout 1.974 orang, Marib 750 orang, dan Al Mahrah 12 orang.

Aden mencatat peningkatan jumlah pengungsi mingguan paling tajam, yakni bertambah 3.510 orang atau sekitar 40 persen.

Lonjakan Jumlah Pengungsi

“Komunitas di Taiz, Lahj, dan Aden telah membuka pintu bagi orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran, tetapi niat baik saja tidak dapat memenuhi semua kebutuhan,” kata Esoev.

Menurut dia, keluarga-keluarga tersebut membutuhkan tempat tinggal, makanan, dan perlindungan. Sementara itu, kota-kota yang menampung mereka juga membutuhkan dukungan.

IOM menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan pekerja kemanusiaan serta akses yang aman dan tanpa hambatan kepada keluarga yang mengungsi dan masyarakat yang menjadi tuan rumah.

IOM memperingatkan bahwa jumlah pengungsi dapat kembali meningkat dalam beberapa hari mendatang jika situasi tetap tidak stabil.

Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok pemberontak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada 2014. Kondisi tersebut mendorong koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Pertempuran meningkat pada September, dengan kelompok Houthi mengambil alih sejumlah wilayah penting di provinsi Al-Hudaydah dan Taiz, termasuk kota strategis Mokha, serta mencapai Pulau Mayyun yang menghadap Selat Bab el-Mandeb.

Baca juga: Pasukan Pemerintah Yaman Bombardir Posisi Houthi di Kota Taiz

(Willy Haryono)