Kemenkes Riset Efektivitas Nutrisi untuk Pencegahan TBC

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Kemenkes Riset Efektivitas Nutrisi untuk Pencegahan TBC

Siti Yona Hukmana • 22 October 2026 13:01

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meriset efektivitas nutrisi dalam upaya pencegahan tuberkulosis (TBC). Penelitian yang dinamai Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) ini akan berlangsung selama lima tahun dengan berkolaborasi bersama Tanzania.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, menyebut penelitian ini diperlukan sebagai terobosan baru dalam penanganan TBC. Kemenkes juga telah melakukan berbagai intervensi, seperti vaksin, edukasi, hingga pengobatan.

“Kita sudah punya sejarah mengobati tuberkulosis puluhan tahun. Kita sudah melakukan, baik dengan obat-obatan, edukasi, screening, vaksin yang juga kita trial di bukan di Indonesia tapi di tempat lain, juga belum mendapatkan hasil yang maksimal,” kata Dante di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026.

Sebagai bentuk langkah konkret, pemerintah meluncurkan penelitian yang berfokus pada analisis dampak nutrisi terhadap efektivitas pengobatan dan pencegahan TBC.

“Nah, salah satu pendekatan yang akan kita sasar adalah pendekatan mengenai nutrisi. Apakah nutrisi itu memberikan impact yang baik untuk prevention dan hasil pengobatan tuberkulosis,” ujar Dante.

Studi riset ini rencananya dilaksanakan di empat wilayah. Riset melibatkan tim ahli akademisi dari Universitas Indonesia (UI) sebagai pelaksana utama penelitian.

“Ke depan kita akan melakukan ini di empat kota sebagai kepala studi, di Jakarta, Depok, Bogor, dan di Lombok. Yang nantinya ini akan kita serahkan principle investigator-nya ke pada peneliti dari Universitas Indonesia,” terang Dante.

Dalam skema risetnya, populasi penelitian akan dikelompokkan ke dalam empat formula perlakuan yang berbeda guna membandingkan tingkat keberhasilan terapi pencegahan TBC. Dante mengatakan kelompok penelitian akan dibagi menjadi empat grup. 

Pasien penderita tuberkulosis (TB) antre saat akan menjalani pemeriksaan rutin di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan. ANTARA/Dhoni Setiawan.

Pertama, kelompok yang tidak mendapat placebos sebagai kontrol. Kedua, mendapatkan vitamin D. Ketiga, mendapatkan vitamin B dan nutri makro nutrien. Keempat, mendapat nutri vitamin B, nutri makro nutrien, dan balance protein.

Hasil akhir dari evaluasi terhadap keempat kelompok tersebut nantinya menjadi landasan penyusunan kebijakan nasional terkait intervensi gizi bagi penderita maupun kelompok berisiko TBC.

“Jadi ada empat kelompok yang nanti akan dievaluasi hasil pengobatan preventif TB-nya pada kelompok-kelompok di populasi tersebut, mana yang paling baik,” ungkap Dante.

Dari temuan yang dihasilkan nantinya, pemerintah berkomitmen mengadopsi pendekatan nutrisi tersebut ke dalam program penanggulangan TBC di Indonesia. 

“Kalau ternyata nanti salah satu kelompok misalnya kelompok yang dapat vitamin B, makronutrien, dan balance protein yang paling baik itu yang akan kita sasar untuk program pendekatan TBI yang lebih agresif di masa depan,” ungkap Dante.

Pemerintah berharap integrasi antara terapi medis konvensional dan kecukupan gizi seimbang ini dapat menjadi titik balik dalam mempercepat target eliminasi TBC di Indonesia.

“Mudah-mudahan dengan ini dengan pendekatan nutrisi yang lebih baik, pengobatan TB akan jadi lebih baik lagi,” kata Dante.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)