Kepala Departemen Edukasi dan Literasi AAJI Cicilia Nina berbicara di acara Kick Andy Goes to Campus di Universitas Binus Alam Sutera, pada Kamis, 26 Februari 2026 (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Literasi Keuangan dari AAJI di Kick Andy Goes to Campus: Perencanaan, Proteksi, dan Fondasi Sejak Muda
Patrick Pinaria • 28 February 2026 19:40
Tangerang: Literasi keuangan menjadi salah satu agenda utama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dalam Kick Andy Goes to Campus di Universitas Binus Alam Sutera, pada Kamis, 26 Februari 2026. Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Kepala Departemen Edukasi dan Literasi AAJI Cicilia Nina menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebagai bentuk pencegahan risiko.
"Pesan pertama, perencanaan untuk pencegahan bencana. Karena kita percaya bahwa prevention bagaimanapun juga jauh lebih penting daripada kejadian yang terjadi atau kuratif," ujarnya dalam sesi doorstop pada Kamis, 26 Februari 2026.
Literasi Keuangan Harus Komplet
Dalam pemaparannya, Nina menjelaskan bahwa perencanaan keuangan harus dilihat secara komprehensif dari hulu ke hilir.
"Kita tahu bahwa kita berbicara tentang perencanaan keuangan, kalau kita bicara secara kompleks komprehensif A to C, dari ber-income, menyimpan, spending, dan mengumpulkan," lanjut Nina.
Ia menegaskan konsep tersebut tidak hanya berlaku untuk kebutuhan hari ini, melainkan juga masa depan dan warisan.
"Konsep kelengkapan itu bukan konsep hanya untuk hari ini, tapi juga untuk hari esok, bahkan untuk legacy. Karena itu, kompleksnya adalah komplet. Ada saving, ada investment, ada protection," tutur Nina.
Menurut Nina, banyak generasi muda memahami pentingnya saving dan investment, tetapi sering melupakan unsur proteksi.
"Saving and investment perlu nggak? Perlu banget. Tapi saving and investment itu C, jatuhnya malah cuman bencana. Makanya harus ditambahin P, biar jadi sip gitu," katanya.
Ia menjelaskan fungsi proteksi dalam tiga aspek: menjaga dana yang sudah dikumpulkan, memastikan investasi tetap berjalan meski terjadi risiko, serta mendukung akumulasi kekayaan untuk legacy.
Risiko yang Tak Disadari Generasi Muda
Nina menyoroti bahwa risiko terbesar generasi muda sering kali bukan pada besaran pendapatan, melainkan pada cara mengelola pengeluaran.
"Risiko yang tidak disadari oleh generasi muda adalah bagaimana dia melakukan perencanaan dalam spending. Orang selalu membuat perencanaan dalam income, tapi lupa membuat perencanaan dalam spending," kata Nina.
Ia mencontohkan fenomena belanja yang dicatat setelah transaksi terjadi. "Mereka belanja tapi dicatat. Cuma sudah belanja baru mencatat, terlambat."
Menurutnya, pengelolaan pengeluaran harus direncanakan sejak awal, bukan dievaluasi setelah uang habis.

Kepala Departemen Edukasi dan Literasi AAJI Cicilia Nina (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Tahapan Perencanaan: Jangan Lompat ke Akselerasi
Pada kesempatan itu, Nina juga memaparkan tahapan perencanaan keuangan yang runtut. Ia menekankan agar mahasiswa tidak langsung masuk ke fase investasi berisiko tinggi tanpa fondasi. "Yang pertama, jangan berutang dulu," katanya.
Ia menyinggung kebiasaan penggunaan paylater yang sering dianggap bukan utang. "Mereka bilang, aku nggak hutang. Tapi itu berhutang, Bang Andi. Terus bayarnya paylater. Terus, paylater-nya enggak salah, tapi benar-benar nggak di-pay (dibayar). Itu yang jadi salah," ucapnya.
Tahap berikutnya adalah membangun fondasi, yakni dana darurat dan proteksi. Nina meluruskan pemahaman yang keliru tentang dana darurat. "Dana darurat itu bukan tabungan. Namanya dana darurat. Nyimpen di saving boleh, tapi gak boleh dikotak-kotik," jelas Nina.
Ia menyarankan dana darurat sebesar 1-3 kali pengeluaran untuk lajang, lebih besar bagi yang sudah berkeluarga. Setelah fondasi kuat, barulah masuk tahap stabilisasi seperti saving dan instrumen berisiko rendah. Berikutnya adalah akselerasi, yakni investasi seperti saham, emas, atau kripto.
"Anak muda suka kebalik balik. Buat makan belum cukup, udah main akselerasi. Uang makan dibeli di bitcoin. Yang ngeri, kan? Koin yang enggak dapat, bitnya aja yang kena," ujarnya.
Baca Juga :
Rumus 1–2–3–4: Sisihin, Bukan Disisain
Untuk memudahkan pemahaman, Nina memperkenalkan rumus sederhana 1–2–3–4. "10 persen dana kebajikan, 20 persen dana saving dan proteksi, kemudian 30 persennya adalah untuk aset, dan sisanya 40 persen adalah biaya hidup," katanya.
Ia menekankan prinsip utama dalam pengelolaan keuangan. "Sisihin bukan sisain. Orang kita kebanyakan belanja dulu, kalau sisa baru disisihin, masalahnya nggak pernah sisa," ucap Nina.
Menurutnya, membangun kebiasaan menyisihkan sejak mahasiswa sangat mungkin dilakukan, bahkan dari uang saku. "Mulai bikin budgeting. Sesimple dari uang saku yang dia pegang."
Ia bahkan menantang mahasiswa untuk memiliki target tabungan sejak kuliah. "Sebagai mahasiswa dengan uang saku yang diberikan oleh orang tua, pernah nggak punya rencana? Let’s say, 4 tahun kuliah, di akhir kuliah saya pengen punya tabungan Rp100 juta," katanya.
Proteksi Sejak Dini
Nina menegaskan bahwa kesadaran proteksi sebaiknya dibangun bahkan sebelum usia produktif. "Sangat penting, justru malah sebelum usia produktif. Kapan mulainya? Kemaren, gitu."
Menurutnya, tanpa perencanaan yang bijak, berapa pun aset yang diwariskan bisa habis. Karena itu, literasi keuangan harus mencakup manajemen risiko dan proteksi, bukan sekadar tabungan dan investasi.
Sesi literasi ini menegaskan komitmen AAJI dalam membangun generasi yang tidak hanya melek finansial, tetapi juga siap menghadapi risiko secara terencana. Dengan pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan kontekstual, AAJI mendorong mahasiswa untuk membangun fondasi keuangan yang sehat sejak dini.