Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times
Trump Bantah Kekhawatiran Keamanan Kecerdasan Buatan, Tolak “Tombol Pemutus”
Fajar Nugraha • 17 September 2026 11:10
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai keamanan kecerdasan buatan (AI) adalah sebuah "hoaks”.
Trump mengkritik seruan untuk menerapkan lebih banyak mekanisme pengamanan bagi teknologi yang berkembang pesat ini.
Pernyataan ini muncul setelah Jack Clark, salah satu pendiri perusahaan AI raksasa Anthropic, mengatakan kepada BBC bahwa kewajiban industri untuk memiliki "tombol pemutus" (kill switch) yang dapat diperiksa oleh pihak ketiga mungkin diperlukan.
Komentar Clark menyusul peringatan mengenai risiko teknologi ini bagi umat manusia yang disampaikan dalam beberapa hari terakhir oleh sejumlah eksekutif dan staf di perusahaan-perusahaan AI terkemuka.
Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual saham perusahaan teknologi karena para investor menimbang dampak dari potensi perlambatan dalam pengembangan AI yang bernilai miliaran dolar.
Dalam serangkaian unggahan di media sosial, presiden AS tersebut membandingkan peringatan mengenai AI dengan "Penipuan Pemanasan Global" yang, menurutnya, "dilakukan oleh kaum Kiri Radikal Demokrat".
Trump juga menyebut dirinya sebagai "Pembasmi Hoaks", dan menyamakan kekhawatiran tentang keamanan teknologi tersebut dengan apa yang ia sebut sebagai "HOAKS RUSSIA, RUSSIA, RUSSIA".
“Satu-satunya mekanisme pengamanan yang dibutuhkan untuk AI adalah seorang presiden yang kuat dan cerdas,” ujar Trump, seperti dikutip BBC, Kamis 17 September 2026.
Kemudian Trump juga menulis: "Ada konspirasi SAKIT yang sedang berlangsung terhadap AI dan Pusat Data, dan satu-satunya pihak yang senang akan hal itu adalah Tiongkok. SIAPA PUN YANG MENANG DALAM AI, MEREKALAH PEMENANGNYA!"
Media pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa para ahli telah memperingatkan bahwa "kecemasan Washington yang kian meningkat terhadap pesatnya pengembangan AI di Tiongkok tampaknya semakin mendistorsi prioritas kebijakannya".
"Mereka tahu bahwa Tiongkok telah menjadi pesaing kuat dalam bidang AI, dan khawatir jika AS memperlambat pengembangan atau memperketat regulasi, Tiongkok bisa mengejar ketertinggalan dengan lebih cepat lagi," ujar Xin Qiang, seorang profesor Studi Amerika di Universitas Fudan, kepada Global Times.
Clark, salah satu dari tujuh pendiri Anthropic, sebelumnya pada hari Senin mengatakan bahwa cara untuk mematikan perangkat lunak AI sepenuhnya jika sistem tersebut menjadi terlalu berbahaya adalah sesuatu yang "mungkin ingin diatur melalui peraturan oleh masyarakat" di masa mendatang.
Ia menambahkan bahwa "sebagian besar laboratorium memiliki cara berbeda untuk memutus aliran sistem", termasuk Anthropic, namun mengatakan bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu mewajibkan adanya mekanisme tersebut.
Menteri Bisnis Inggris, Jonathan Reynolds, mengatakan pada hari Selasa bahwa masyarakat "tidak boleh lengah" terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan oleh AI, namun menambahkan: "Kita juga harus berhati-hati agar tidak bersikap berlebihan atau hiperbolis mengenai hal ini."
Saat berbicara kepada BBC, ia mengatakan: "Tentu saja ada risiko, namun harus diakui ada pula manfaat yang sangat besar, baik itu dalam layanan publik, kesehatan, maupun kontribusinya terhadap perekonomian."
Sementara CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, mengatakan kepada saluran berita bisnis CNBC bahwa pihaknya telah menyusun panduan baru tersebut selama berbulan-bulan dan memutuskan untuk menerbitkannya sekarang karena adanya perdebatan terkini seputar teknologi tersebut.
Sebagai tanda betapa kekhawatiran terhadap teknologi ini telah menjadi sorotan utama, dua tokoh terkemuka dari kubu politik yang berlawanan di AS dijadwalkan tampil dalam acara yang sama untuk menyerukan evaluasi ulang terhadap kebijakan AI.
Mantan kepala strategi Trump, Steve Bannon, dan Senator progresif senior, Bernie Sanders, dijadwalkan berbicara di acara "Pro-Human Assembly" di Washington pada hari Selasa.
Menurut situs webnya, pertemuan tersebut "bertujuan untuk merumuskan visi bersama dan menjabarkan jalur yang lebih baik serta lebih berorientasi pada manusia bagi pengembangan AI".
Sanders mengatakan kepada program Newsnight BBC pekan lalu bahwa "kita harus segera bertindak untuk menghentikan pertumbuhan AI yang tak terkendali".
"Ada ancaman eksistensial berupa kemungkinan punahnya umat manusia," ujar Sanders.
Perdebatan mengenai potensi bahaya teknologi ini semakin memanas dalam beberapa hari terakhir setelah unggahan dari Jacob Coxon -,seorang peneliti yang keluar dari Anthropic karena kekhawatiran bahwa AI dapat memusnahkan umat manusia,- menjadi viral.
Menanggapi hal tersebut, ilmuwan Anthropic, Evan Hubinger, menyatakan pendapatnya bahwa kemungkinan AI menyebabkan kepunahan manusia "dalam satu dekade mendatang" adalah lebih dari 10%.
CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan agar laju pengembangan AI diperlambat dan diawasi lebih ketat -,seperti yang pernah dilakukan perusahaannya sebelumnya,- meskipun ada pihak yang mempertanyakan motivasi di balik seruan tersebut.
Amodei juga mengatakan bahwa langkah apa pun untuk mengendalikan AI harus dilakukan "tanpa mengorbankan keuntungan komersial".
Para pimpinan dari dua perusahaan AI yang bersaing, Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI, juga menyatakan dukungannya terhadap usulan Amodei mengenai perlambatan laju industri dan penerapan regulasi, serta pengawasan independen terhadap pengembangan model AI.