Ilustrasi freepik
Syarat dan Tata Cara Iktikaf di Masjid pada 10 Malam Terakhir Ramadan
Putri Purnama Sari • 10 March 2026 16:36
Jakarta: Iktikaf merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Amalan ini biasanya dilaksanakan di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.
Dilansir dari NU Online, Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menjelaskan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang sangat dianjurkan, terutama di 10 hari terakhir Ramadan.
“Siapa yang ingin beri'tikaf bersamaku, maka beri'tikaflah pada sepuluh malam terakhir,” (HR. Ibnu Hibban).
Dalam buku Fiqh Al-'Ibadat, 'Ilmiyyann 'Ala Madzhabi All-Imam Asy-Syafi'i Ma'a Mutammimat Tanasub Al-'Ashr karya Syaikh Alauddin Za’tari yang diterjemahkan oleh Abdul Rosyad Shiddiq dijelaskan bahwa secara bahasa iktikaf berarti berdiam diri, menahan diri, atau menetap pada sesuatu.
Sementara itu, menurut pengertian syariat, iktikaf adalah berdiam diri secara khusus di dalam masjid dengan niat tertentu serta mengikuti tata cara yang telah ditentukan. Hal ini juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
"Rasulullah SAW selalu beriktikaf pada setiap bulan Ramadan selama 10 hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama 20 hari." (HR Bukhari).
Sebelum melaksanakan iktikaf, terdapat beberapa syarat sah yang perlu dipahami oleh umat Islam. Berikut informasinya.
Syarat Sah Iktikaf di Masjid
Dilansir dari buku Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1 karya Ibnu Rusyd, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar i'tikaf dianggap sah.
1. Beragama Islam
Syarat pertama untuk melaksanakan iktikaf adalah beragama Islam. Ibadah ini tidak sah jika dilakukan oleh orang yang bukan Muslim.
2. Sudah Baligh
Seseorang yang melakukan iktikaf sebaiknya sudah mencapai usia baligh, yaitu usia dimana seseorang telah dikenai kewajiban menjalankan syariat Islam.
3. Dilaksanakan di Masjid
Itikaf harus dilakukan di masjid sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan tentang larangan berhubungan suami istri saat seseorang sedang beriktikaf di masjid.
4. Berakal Sehat
Orang yang beriktikaf harus dalam kondisi berakal sehat. Artinya, tidak sedang mengalami gangguan mental atau kehilangan kesadaran.
5. Suci dari Hadas, Haid, dan Nifas
Kondisi suci menjadi syarat penting dalam pelaksanaan itikaf. Oleh karena itu, seseorang yang sedang mengalami haid, nifas, atau dalam keadaan tidak suci tidak dapat melaksanakan iktikaf.
6. Membaca Niat Iktikaf
Sebelum memulai ibadah iktikaf, seorang Muslim perlu membaca niat terlebih dahulu. Adapun bacaan niat iktikaf adalah sebagai berikut:

Nawaitu an i’tikafa fi hadzal masjidi lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala.”
Baca Juga :
Nuzulul Qur'an 1447 H, Masjid Istiqlal Luncuran Wakaf 100 Ribu Al-Qur'an illuminasi Tionghoa
Cara Mengerjakan Iktikaf
Itikaf dilakukan dengan berdiam diri di masjid dan mengisi waktu dengan berbagai bentuk ibadah. Dalam buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari karya Muh Hambali dijelaskan beberapa cara melaksanakan iktikaf.- Membaca niat iktikaf sebelum memulai ibadah.
- Berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Mengisi waktu dengan berbagai amalan seperti zikir, membaca Al-Quran, tasbih, serta tafakur.
- Menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat agar iktikaf dapat menjadi momen meningkatkan ketakwaan.
Melalui ibadah iktikaf, umat Islam diharapkan dapat memaksimalkan ibadah pada 10 malam terakhir Ramadan sekaligus meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.