Perkuat Daya Saing, PTPN I Pecut Transformasi

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras (kiri). Foto: PTPN I.

Perkuat Daya Saing, PTPN I Pecut Transformasi

Husen Miftahudin • 11 July 2026 15:30

Jakarta: PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I menegaskan transformasi perusahaan perlu dijalankan secara lebih progresif, terukur, dan memiliki akselerasi yang lebih kuat agar mampu meningkatkan daya saing di tingkat global.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan arah transformasi yang telah dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir sudah berada pada jalur yang tepat. Namun, percepatan implementasinya masih memerlukan komitmen yang lebih besar dari seluruh elemen perusahaan.

"Transformasi yang progresif di era digital membutuhkan prasyarat manajemen yang modern, profesional, tangguh, dan berdaya saing global," tegas Rivai di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 11 Juli 2026.

Ia menilai industri perkebunan tetap menjadi sektor strategis karena berperan sebagai penyedia bahan baku bagi industri manufaktur. "Industri perkebunan atau farming adalah main course alias menu utama sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur," sebut dia.

"Industri ini tidak akan mati selagi masih ada kehidupan. Oleh karena itu, kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalitas agar perusahaan kita berkembang lebih progresif," tegas Rivai menambahkan.
 

 

Perkebunan berperan strategis dalam perekonomian


Rivai menjelaskan industri agro memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi karena menghasilkan komoditas pangan sekaligus menjadi sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Menurut dia, transformasi perusahaan tidak semata-mata bertujuan meningkatkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja.

"Kita harus bertransformasi dengan cepat dan masif bukan hanya karena mengejar profit, tetapi menjaring efek sosial yang lebih luas. Kita tahu, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga kerja paling besar dalam rantai ekonomi. Sebarannya juga sangat luas, tidak terkonsentrasi di titik tertentu. Yang lebih penting lagi, lapangan kerja yang tercipta bisa dimasuki oleh siapa saja," papar dia.

Ia juga menilai dinamika industri perkebunan saat ini berubah sangat cepat akibat persaingan global, volatilitas harga komoditas, perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, hingga percepatan digitalisasi.

"Mengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. Amanah ini adalah tanggung jawab untuk membangun sebuah korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global, adaptif terhadap perubahan, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan masyarakat," ungkap Rivai.


(Ilustrasi. Foto: PTPN I)
 

5 pilar transformasi PTPN I


Untuk mewujudkan visi tersebut, PTPN I menetapkan lima pilar transformasi sebagai fondasi menuju korporasi agribisnis berkelas dunia, yaitu Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG), penguatan manajemen risiko, digitalisasi manajemen, optimalisasi aset negara, serta penguatan sinergi kelembagaan.

Rivai menegaskan tata kelola perusahaan yang baik menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus membangun kepercayaan para pemangku kepentingan.

Sementara itu, penguatan manajemen risiko dilakukan melalui restrukturisasi organisasi, termasuk integrasi Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko agar perusahaan lebih siap menghadapi berbagai ketidakpastian bisnis, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga perubahan iklim.

"Perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global," tegas dia.

Menurut Rivai, transformasi perusahaan hanya dapat berjalan optimal melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat.

"Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi perusahaan agribisnis nasional yang mampu berdiri sejajar dengan perusahaan-perusahaan perkebunan terbaik di dunia," jelas dia.

"Dengan tata kelola yang kuat, digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi yang solid, kami optimistis PTPN I akan menjadi korporasi yang semakin profesional, kompetitif, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia," tambah Rivai.

(Husen Miftahudin)