Bahlil: Kualitas B50 Lebih Baik dari B40, Filter Kendaraan Bertahan hingga 40 Ribu Km

Biodiesel B50. Foto: dok Kementerian ESDM.

Bahlil: Kualitas B50 Lebih Baik dari B40, Filter Kendaraan Bertahan hingga 40 Ribu Km

Husen Miftahudin • 9 July 2026 16:17

Karawang: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan biodiesel B50 telah melalui pengujian selama enam bulan sebelum resmi diluncurkan. Pengujian dilakukan pada berbagai moda transportasi, mulai dari kereta api, mobil penumpang, bus, hingga kapal.

Bahlil mengatakan uji coba tidak hanya dilakukan pada kendaraan produksi Asia, tetapi juga kendaraan asal Eropa, termasuk Mercedes.

"Pak, ini test case-nya enam bulan. Jadi kereta api, mobil, mobil Mercedes pun dites, bus. Tidak hanya Toyota, Mercedes pun oke. Jadi ini dari Asia sampai Eropa semua. Kapal-kapal semuanya kita tes," kata Bahlil dalam Peresmian dan Peluncuran Bahan Bakar Biodiesel B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Bahlil menilai kualitas B50 lebih baik dibandingkan B40. Salah satu indikatornya terlihat dari masa pakai filter kendaraan.

Pada penggunaan B40, filter kendaraan umumnya diganti setelah menempuh jarak sekitar 10 ribu hingga 20 ribu kilometer. Sementara pada pengujian B50, terdapat kendaraan yang telah menempuh jarak hingga 40 ribu kilometer tanpa penggantian filter.

"Alhamdulillah hasil tes-nya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik daripada B40. Apa dasarnya? Kalau B40 itu filternya diganti pada ukuran 10 ribu sampai 20 ribu kilometer. Nah untuk B50, ada yang 40 ribu belum diganti filternya," tutur Bahlil.
 

 

B50 berpotensi hemat devisa hingga Rp170 triliun


Selain diuji memiliki performa yang lebih baik, implementasi B50 diproyeksikan meningkatkan efisiensi devisa negara melalui pengurangan impor bahan bakar.

Bahlil menyebut program B40 mampu menghemat devisa sekitar Rp133 triliun. Dengan penerapan B50, nilai penghematan diperkirakan meningkat menjadi Rp170 triliun.

"Nah dengan implementasi B50, kita hemat devisa hingga Rp170 triliun. Jadi dari B40 ke B50 kita bisa menahan devisa kita Rp170 triliun, jadi ini semakin impor kita berkurang," kata Bahlil.

Implementasi B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun. Program tersebut juga diproyeksikan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada implementasi B40 menjadi sekitar 2,1 juta orang melalui B50.


(Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV)
 

Dukung penurunan emisi dan kedaulatan energi


Bahlil mengatakan implementasi B50 turut meningkatkan penurunan emisi gas rumah kaca dari 39,66 juta ton karbon dioksida (CO2) menjadi sekitar 44,56 juta ton CO2.

Ia juga menilai B50 bukan hanya perpaduan antara bahan bakar fosil dan bahan bakar nabati, melainkan mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik.

"B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan Indonesia mampu berdiri di atas sumber dayanya sendiri," tegas Bahlil.

(Husen Miftahudin)