Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran dipenuhi simbol agama dan politik, mulai dari kepalan tangan, bendera merah, hingga rute prosesi. (Anadolu Agency)
Di Balik Prosesi Pemakaman Ali Khamenei: Simbol, Rute, dan Pesan Politik
Willy Haryono • 6 July 2026 16:02
Teheran: Rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama sepekan tidak hanya menjadi prosesi penghormatan terakhir bagi pemimpin Republik Islam tersebut, tetapi juga sarat dengan simbol-simbol keagamaan dan politik yang memperkuat narasi persatuan di kalangan pendukung pemerintah.
Melalui slogan, ilustrasi visual, rute iring-iringan jenazah, hingga tata cara penerimaan delegasi asing, pemerintah Iran membangun pesan bahwa dukungan terhadap Republik Islam tetap kuat setelah wafatnya Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Prosesi diawali dengan tiga hari masa penghormatan di Teheran sebelum jenazah dibawa melintasi sejumlah kota di Iran dan Irak. Seluruh rangkaian tersebut dirancang dengan simbolisme yang berkaitan dengan perjalanan hidup Khamenei sekaligus tradisi Islam Syiah.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 hingga wafat. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pada Maret 2026.
Kepalan Tangan sebagai Simbol Perlawanan
Pemerintah Iran menggambarkan kematian Khamenei sebagai sebuah kesyahidan dan menempatkan duka nasional sebagai bagian dari identitas kolektif negara.Slogan resmi pemakaman, "Kita Harus Bangkit", dipasang pada berbagai spanduk dan materi visual. Untuk audiens internasional, pemerintah menggunakan padanan bahasa Arab yang berarti "Bangkitlah karena Allah", yang diambil dari ayat Al-Qur'an.
Salah satu simbol paling menonjol adalah ilustrasi kepalan tangan Khamenei berlatar hitam dan merah. Gambar tersebut diangkat dari pesan yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei yang menyebut tangan ayahnya tetap mengepal sebelum wafat, meski lengan kanannya mengalami kelumpuhan akibat percobaan pembunuhan pada 1981.
Mojtaba sendiri diperkirakan tidak menghadiri prosesi secara terbuka karena alasan keamanan.
Warna hitam dan merah digunakan sebagai simbol duka, kesyahidan, sekaligus perlawanan.
"Dua slogan yang bergema adalah perlawanan terhadap musuh dan pembalasan atas darah pemimpin Iran yang gugur sebagai syahid," demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dikutip Al Jazeera.
Simbol serupa juga tampak melalui pengibaran bendera merah bertuliskan "Wahai para penuntut balas Hussein" di kompleks Grand Mosalla, Teheran. Dalam tradisi Syiah, simbol tersebut merujuk pada peristiwa Karbala dan dipakai untuk mengaitkan kematian Khamenei dengan narasi pengorbanan Imam Hussein.
Rute Pemakaman Sarat Makna
Perjalanan jenazah juga disusun dengan pertimbangan simbolis.Prosesi dimulai dari Grand Mosalla di Teheran, dilanjutkan menuju Kota Qom, kemudian ke Najaf dan Karbala di Irak, sebelum dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza di Mashhad.
Grand Mosalla dipandang sebagai simbol kesinambungan antara Khamenei dan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sementara itu, Qom merupakan pusat pendidikan ulama Syiah sekaligus salah satu fondasi legitimasi sistem pemerintahan teokrasi Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Najaf dan Karbala memiliki posisi penting dalam tradisi Syiah. Dengan menghubungkan seluruh lokasi tersebut dalam satu rangkaian prosesi, pemerintah Iran menampilkan kesinambungan sejarah dan identitas Syiah lintas negara yang selama beberapa dekade menjadi bagian dari kebijakan regional Teheran.
Kehadiran Delegasi Asing
Prosesi pemakaman juga dihadiri delegasi dari berbagai negara serta kelompok yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Iran, termasuk Hizbullah Lebanon, Hamas, Jihad Islam Palestina, dan Houthi Yaman.Setiap delegasi menerima pembacaan ayat Al-Qur'an sebelum memberikan penghormatan kepada jenazah Khamenei dan bertemu dengan pejabat Iran.
Menurut laporan Al Jazeera, ayat yang dibacakan berbeda untuk setiap delegasi. Bagi Hamas, Hizbullah, dan Pakistan, dipilih ayat yang menekankan kesetiaan, keteguhan, dan pengabdian kepada Tuhan.
Sementara itu, untuk delegasi Arab Saudi digunakan ayat yang berkaitan dengan Perang Badar, yang menggambarkan pertarungan antara kelompok mukmin dan nonmukmin. Pemilihan ayat tersebut memunculkan berbagai tafsir politik di kalangan pengamat mengenai pesan diplomatik yang ingin disampaikan Teheran melalui rangkaian pemakaman tersebut. (Keysa Qanita)
Baca juga: Peti Jenazah Ayatollah Ali Khamenei Diarak Menuju Lapangan Azadi Teheran