Kemenag Jabar Tetapkan 11 Titik Pemantauan Hilal, Ini Lokasinya

Alat teropong yang digunakan Kemenag Belitung untuk memantau Rukyatul Hilal di Belitung, di Tanjungpandan, Rabu (4/2/2026) ANTARA/Apriliansyah

Kemenag Jabar Tetapkan 11 Titik Pemantauan Hilal, Ini Lokasinya

Media Indonesia • 8 February 2026 13:26

Bandung: Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Barat secara resmi menetapkan 11 titik lokasi pemantauan hilal (rukyatul hilal) penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, . Pengamatan ini akan dilaksanakan serentak pada Selasa, 17 Februari 2026.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ohan Burhan, menjelaskan persiapan teknis telah rampung, termasuk pembekalan bagi ratusan petugas lapangan.

Meski tersebar di 11 titik, beberapa lokasi utama yang menjadi rujukan rutin di antaranya adalahn Observatorium Kampus Unisba Kota Bandung, Pantai Keusik Luhur Pangandaran, Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kabupaten Sukabumi, Pantai Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, dan lokasi lainnya tersebar di titik strategis pesisir Utara dan Selatan Jawa Barat.

Ohan menerangkan, berdasarkan perhitungan astronomis, peluang terlihatnya hilal di wilayah Jawa Barat tahun ini diprediksi cukup menantang.

 



Hal ini merujuk pada kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

“Kalau lihat derajat, nampaknya di Jabar tidak akan terlihat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi mudah-mudahan ada keajaiban dan faktor cuaca serta jarak pandang di pesisir juga akan menjadi penentu utama dalam keberhasilan rukyatul hilal kali ini,” kata Ohan dikutip Media Indonesia, Selasa, 17 Februari 2026.

Untuk mengoptimalkan hasil, Kemenag Jabar akan mengombinasikan teknologi modern dengan kearifan lokal. Selain menggunakan teropong digital dan teodolit, sejumlah pondok pesantren tetap menggunakan metode tradisional.


Ilustrasi pexels

“Selain teropong, ada alat tradisional yang biasa dilakukan oleh pondok pesantren berupa tongkat dan alat hitung manual lainnya yang sudah disiapkan,” sambungnya.

Ohan menambahkan, sedikitnya 135 petugas yang terdiri dari Badan Hisab Rukyat (BHR) kabupaten/kota serta perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dikerahkan. Setiap daerah menugaskan lima orang ahli untuk melakukan pengamatan dan pelaporan langsung ke pusat.

“Hasil dari pemantauan di 11 titik ini nantinya akan dilaporkan kepada Kementerian Agama RI untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penentuan awal puasa Ramadan 1447 H,” tandasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)