58 Ribu Bangunan di Aceh Tamiang Rusak Terdampak Bencana

Tangkapan layar - Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Joko Widodo memaparkan data bangunan rusak Aceh Tamiang akibat bencana hidrometeorologi dalam webinar di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026. ANTARA/Sean Filo M

58 Ribu Bangunan di Aceh Tamiang Rusak Terdampak Bencana

Silvana Febiari • 8 January 2026 12:28

Aceh Tamiang: Sekitar 58 ribu bangunan rusak akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, beberapa waktu lalu. Angka tersebut didapatkan dari hasil analisis tim Gugus Tugas Penanggulangan Bencana Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui pemetaan citra satelit. 

"Hasil analisis dari BRIN ada 58 ribu bangunan kemungkinan terdampak (bencana)," kata Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Bencana BRIN Joko Widodo dalam seminar yang diikuti secara daring, seperti dilansir Antara, Kamis, 8 Januari 2026.

Joko memaparkan bahwa 90 persen wilayah Aceh Tamiang terdampak bencana. Namun, data ini perlu divalidasi lebih lanjut, sebab metode yang digunakan berbeda dengan metode yang dilakukan oleh pemangku kepentingan terkait lainnya.
 


Ia mengungkap bahwa data yang dapat diakses melalui laman https://spectra.brin.go.id itu bisa menjadi acuan kepada seluruh pemangku kepentingan dalam merekonstruksi wilayah terdampak bencana di Sumatera. 

Pihaknya juga telah menyampaikan data ini kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) untuk bisa menjadi acuan pengambilan keputusan yang tepat.

"Dalam pembicaraan itu kemudian kami sampaikan 'Pak, untuk Aceh Tamiang, kalau kita merelokasi, kita akan seperti memindahkan kota, karena Aceh Tamiang itu memang di dataran banjir ya, flat plains. Kemudian, di tengahnya ada Sungai Tamiang yang lebar, daerahnya flat, jadi itu sebenarnya memang rentan banjir'," ungkapnya.


Petugas mengoperasikan eskavator untuk membersihkan jalan akses antardesa dari batang-batang kayu gelondongan pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu, 7 Desember 2025. ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prako


Di samping itu, ia juga menyampaikan opsi untuk melakukan rekayasa teknik (engineering) untuk menciptakan pembatas. Tujuannya agar kondisi meluapnya Sungai Tamiang tidak berdampak kepada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

"Karena di Aceh Tamiang itu sangat memprihatinkan, banyak bangunan rumah yang tinggi lantai dan fondasinya dan itu bersih semua tersapu banjir dengan sangat bersih. Tidak ada bekas dinding, tidak ada atap, isinya rumah juga tidak tahu kemana, dan itu sangat banyak, sangat luas area yang mengalami seperti itu," tutur Joko Widodo.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)