MMA Indonesia Pertemukan Pemimpin Lintas Industri dalam Executive Dialogues 2026

Peserta mengikuti The MMA Indonesia Executive Dialogues 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan lebih dari 50 pemimpin dan pengambil keputusan strategis dari berbagai industri. (Foto: Dok. Ist)

MMA Indonesia Pertemukan Pemimpin Lintas Industri dalam Executive Dialogues 2026

Patrick Pinaria • 2 June 2026 16:17

Jakarta: Marketing + Media Alliance (MMA) Indonesia menggelar The MMA Indonesia Executive Dialogues 2026. Ini merupakan forum diskusi eksekutif eksklusif berbasis undangan yang digelar di The Hermitage, a Tribute Portfolio Hotel, Jakarta.

Mengusung tema 'Empowering Leaders for Growth', kegiatan ini mempertemukan lebih dari 50 pemimpin dan pengambil keputusan strategis dari berbagai sektor, mulai dari chairperson, eksekutif tingkat C-level, direktur, pemilik bisnis, founder, co-founder, kepala departemen, hingga pemimpin perusahaan di industri pemasaran, periklanan, media, dan teknologi.

Executive Dialogues 2026 menghadirkan tujuh sesi diskusi yang mencakup The Pivot First Strategy, Purpose-Led Innovation, Leveraging The Brand Soul, dan MMA’s Framework Movable Middle Growth. Seluruh sesi dirancang untuk menghasilkan wawasan yang dapat diterapkan langsung. 

Sesi-sesi ini berakar pada realita pasar yang tengah mengalami perubahan mendasar-lanskap media 2026 mencerminkan pergeseran nyata dalam cara konsumen menemukan sebuah brand.

Pasar transformasi digital Indonesia bernilai USD 29 miliar pada 2026, tumbuh dengan CAGR 19,1 persen menuju USD69,6 miliar pada 2031, menegaskan posisi Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar dan paling dinamis di Asia Tenggara. Aktivitas digital kini menyumbang hampir 10 persen dari PDB nasional, dan Executive Dialogues 2026 menjadi arena, di mana penerjemahan angka-angka itu ke dalam strategi nyata diuji secara ketat.


Pembicara dan peserta berdiskusi mengenai strategi pertumbuhan bisnis, loyalitas pelanggan, serta transformasi digital dalam Executive Dialogues 2026. (Foto: Dok. Ist)

Di atas fondasi itu, pasar iklan digital Indonesia mencapai USD3,41 miliar pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh ke USD4,51 miliar pada 2031, seiring brand yang semakin agresif mengalihkan anggaran dari kanal tradisional ke digital. Video mendominasi 34 persen dari total belanja iklan, didorong oleh live commerce dan konsumsi video pendek, sementara media sosial menjadi format dengan pertumbuhan tercepat.

Dengan kepemilikan smartphone yang diperkirakan mencapai 91,3 persen pada 2028, penggunaan aplikasi harian yang melampaui 5 jam, dan model berbasis performa yang kini menjadi ekspektasi standar, fokus telah bergeser dari sekadar kehadiran ke performa, dan dari jangkauan ke imbal hasil yang terukur.

Namun jangkauan semata tak lagi menggerakkan pertumbuhan. Movable Middles milik MMA menghasilkan responsivitas iklan 5 kali lebih tinggi dibanding populasi umum, dengan kampanye berbasis hasil yang melampaui kampanye berbasis jangkauan lebih dari 50 persen dalam hal ROAS.
 


Presisi ini harus dipadukan dengan tujuan: 63 persen konsumen lebih memilih brand yang nilai-nilainya selaras dengan mereka, dan 88 persen konsumen global kini mengharapkan brand membuktikan klaim tersebut dengan data yang diverifikasi secara independen.

Executive Vice President and Global Chief Business Officer ParagonCorp, Amalia Sarah Santi, mengatakan masa depan akan ditentukan oleh organisasi yang mampu menggabungkan kecerdasan, kreativitas, dan etika untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.

"Masa depan adalah milik organisasi yang mengintegrasikan kecerdasan, kreativitas, dan etika untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Tahun ini, percakapan kita berfokus pada gagasan mendasar: memberdayakan pemimpin untuk pertumbuhan. Ketidakpastian global terus memengaruhi momentum ekonomi. Konsumen dibanjiri pilihan, dan kepercayaan bisa goyah dalam hitungan detik. Dalam realita itu, brand yang menang adalah brand yang menciptakan makna di luar produk, membangun kepercayaan dari waktu ke waktu, dan tetap relevan dengan apa yang benar-benar penting," ujar Amalia.

Menurutnya, peran brand, pemasar, dan pemimpin bisnis menjadi semakin penting dalam mengubah kompleksitas pasar menjadi arah yang lebih jelas, keputusan yang lebih tajam, serta dampak yang bermakna.

Sementara itu, Country Head & Board Director MMA Indonesia, Shanti Tolani, menilai Indonesia tengah berada pada titik penting dalam perkembangan ekonomi digitalnya.

"Indonesia berada di titik infleksi yang menentukan. Dengan ekonomi digitalnya yang tumbuh 19% per tahun, adopsi AI yang mencapai 92%, dan pasar loyalitas yang bergerak menuju USD 1 miliar, peluang bagi para pemimpin bisnis sangatlah besar. Namun fase pertumbuhan berikutnya tidak akan dimenangkan oleh teknologi, skala, atau investasi semata. Ia akan dipimpin oleh organisasi yang mampu mengubah data menjadi kepercayaan pelanggan, kecerdasan menjadi relevansi, dan keterlibatan konsumen menjadi nilai bisnis yang terukur," kata Shanti.


Country Head & Board Director MMA Indonesia, Shanti Tolani, menyampaikan pandangannya mengenai peluang dan tantangan ekonomi digital Indonesia dalam Executive Dialogues 2026. (Foto: Dok. Ist)

Ia menambahkan bahwa loyalitas kini bukan lagi sekadar hasil transaksi, melainkan disiplin kepemimpinan yang dibangun melalui kejelasan tujuan, ketepatan eksekusi, dan komitmen yang lebih dalam terhadap konsumen.

Melalui Executive Dialogues 2026, MMA Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi strategis bagi para pemimpin bisnis dan pengambil keputusan, sehingga mereka tidak hanya mampu menavigasi perubahan pasar, tetapi juga turut membentuk arah pertumbuhan brand di Indonesia.

(Rosa Anggreati)