Pancasila Mesti Jadi Panduan Etik dalam Pemanfaatan AI

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Pancasila Mesti Jadi Panduan Etik dalam Pemanfaatan AI

Siti Yona Hukmana • 6 June 2026 11:32

Jakarta: Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi sarana yang dapat memudahkan kehidupan manusia. Namun, pemanfaatannya harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila sebagai panduan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Pancasila adalah navigasi yang ideal untuk dijadikan panduan etik dalam pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan masyarakat,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik Stefanus Gusma dalam keterangannya, Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut Gusma, kemajuan teknologi tidak boleh mengurangi semangat kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Perkembangan AI harus tetap diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong.

“Jangan sampai kemajuan AI mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong,” ujar Gusma.

Pandangan ini disampaikan dalam diskusi publik bertajuk "Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)".

Ketum PP Pemuda Katolik Stefanus Gusma. Foto: Istimewa

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Komisi Hak Asasi Manusia Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Aloysius Budi Purnomo, Pr Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Sabrang Mowo Damar Panuluh, anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin, Ketua IAIS Dr Lukas, Ketua EcoCamp RD Ferry Sutrisna Wijaya, serta dimoderatori oleh Stefanus Poto Elu.

Diskusi yang diinisiasi PP Pemuda Katolik tersebut, menegaskan pentingnya menjadikan Pancasila dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai kompas etik dalam menghadapi perkembangan AI yang semakin pesat. Para pembicara sepakat kemajuan teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia dan diarahkan untuk memperkuat martabat manusia, keadilan sosial, serta kepentingan bersama.

(Siti Yona Hukmana)