Kabut Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus Pneumonia di Pontianak

Ilustrasi-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Tantawi Jauhari)

Kabut Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus Pneumonia di Pontianak

Lukman Diah Sari • 28 August 2026 23:58

Bengkayang: Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat peningkatan kasus pneumonia sekitar 10 hingga 20 persen di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang rawat inap. Lonjakan ini terjadi seiring memburuknya kualitas udara di Pontianak dan sekitarnya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Kombes Pol drg. Josep Ginting, mengatakan peningkatan kasus infeksi paru-paru tersebut menjadi atensi khusus bagi pihak rumah sakit dalam mengantisipasi lonjakan pasien gangguan pernapasan.

"Sehingga rumah sakit mengantisipasi peningkatan kasus dengan menyiapkan tenaga kesehatan, alat medis, ruang perawatan, serta sistem koordinasi dengan rumah sakit lain," ujar Josep di Pontianak, Jumat, 28 Agustus 2026, melansir Antara.

Sementara itu, dokter spesialis paru RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, dr. Andreas, menjelaskan bahwa paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan memicu pneumonia. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia tercatat paling berisiko.

"Orang tua lebih banyak dan rentan terdampak pneumonia, bisa karena kabut asap ini," kata Andreas.

Gejala dan Imbauan Kesehatan

Gejala awal akibat paparan asap biasanya berupa batuk dan bersin, yang muncul lebih cepat pada individu dengan riwayat alergi atau asma. Jika paparan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sesak napas akut.

"Kalau paparan berlangsung terus-menerus dan tubuh tidak mampu mentoleransinya, gejala dapat berkembang menjadi sesak napas," tuturnya.


Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Anton Soedjarwo, Kombes Pol drg. Josep Ginting, saat saat diwawancara awak media, di RS Bhayangkara Pontianak, Jumat (28/8/2026). ANTARA/HO- Tripandito Wibowo

Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil, dan lansia serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu. 

Selain itu, peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga perlu diwaspadai di wilayah yang memiliki jumlah titik panas (hotspot) tinggi. Beberapa wilayah tersebut antara lain Kabupaten Ketapang, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Sintang, dan Kapuas Hulu.

Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan jaringan paru-paru mengalami peradangan sehingga kantung udara (alveoli) dapat terisi cairan atau nanah dan mengganggu proses pernapasan.

(Lukman Diah Sari)