Kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, pada Minggu (23/8/2026). ANTARA/Ho-Kema
Karhutla di Papua Barat Capai 2.496 Hektare, Fakfak Paling Parah
Whisnu Mardiansyah • 24 August 2026 22:08
Manokwari: Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua Barat mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut mencapai 2.496,39 hektare sepanjang 2026. Kabupaten Fakfak menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni sekitar 2.171,35 hektare hingga 31 Juli 2026.
Kepala Dishut Papua Barat Jimmy Walter Susanto mengatakan data tersebut mengacu pada aplikasi SiPongi+ (Sistem Pemantauan Karhutla) Kementerian Kehutanan. Berdasarkan data itu, Fakfak masuk dalam kategori wilayah rawan karhutla.
“Kondisi karhutla di Fakfak paling besar dibanding kabupaten lainnya di Papua Barat,” kata Jimmy saat rapat pembentukan satuan tugas (satgas) penanganan karhutla di Manokwari, seperti dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.
Selain Fakfak, karhutla juga tercatat terjadi di sejumlah wilayah lain. Data SiPongi+ mencatat luasan karhutla di Teluk Bintuni mencapai 223,51 hektare, Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare, dan Manokwari 33,54 hektare.
Secara keseluruhan, karhutla di Papua Barat pada 2026 terjadi pada beberapa periode. Luasan kebakaran tercatat 55,12 hektare pada Januari, 1,08 hektare pada April, 472,08 hektare pada Juni, dan 1.968,11 hektare pada Juli.
“Tren karhutla 2026 meningkat dari 2025 yaitu seluas 1.228,71 hektare. Hampir 87 persen karhutla Papua Barat berada di Kabupaten Fakfak,” ucap Jimmy.
Berdasarkan fungsi kawasan, karhutla paling luas terjadi di areal penggunaan lain (APL), yakni mencapai 1.558,53 hektare. Kebakaran juga tercatat melanda hutan produksi seluas 363,70 hektare, hutan produksi terbatas 308,40 hektare, hutan produksi konversi 229,25 hektare, dan hutan lindung 36,51 hektare.
Perkembangan terbaru menunjukkan penyebaran titik api semakin luas. Berdasarkan hasil pemantauan SiPongi+ per 23 Agustus 2026, terdapat 373 titik api yang tersebar di tujuh kabupaten di Papua Barat. Wilayah yang terpantau memiliki titik api juga mencakup Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Kaimana.
“Data SiPongi+ yang terbaru per 23 Agustus pukul 16.00 WIT, titik api sudah menyebar ke semua kabupaten di Papua Barat,” jelas Jimmy.
Pemerintah Provinsi Papua Barat sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Gubernur Papua Barat Nomor 100.3.4.1 tertanggal 26 Juli 2026. Surat edaran tersebut berisi kesiapsiagaan menghadapi karhutla serta langkah antisipasi terhadap potensi El Nino dan telah disebarkan kepada tujuh kabupaten.
_%20Dok_%20Kementerian%20Kehutanan(1).jpg)
Ilustrasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dok. Kementerian Kehutanan
Pemerintah provinsi juga membentuk satgas penanganan karhutla dengan melibatkan sejumlah unsur terkait, termasuk TNI dan Polri. Pembentukan satgas ditujukan untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran agar tidak meluas. Jimmy mengatakan tim telah melakukan patroli sekaligus membantu proses pemadaman di sejumlah lokasi terdampak.
“Tim kami sudah melakukan patroli, termasuk ikut melakukan pemadaman api di Manokwari Selatan dan Fakfak,” ucap Jimmy.
Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru mengatakan kendaraan pemadam kebakaran bantuan Kementerian Pertahanan telah disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla di Papua Barat.
Personel TNI bersama kepolisian dan pemerintah daerah juga disiagakan untuk mengidentifikasi titik api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran. Langkah tersebut dilakukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran serta mencegah kebakaran meluas.
“Kami juga mengimbau agar masyarakat tidak membuka kebun dengan cara membakar, atau membuang puntung rokok sembarang,” ucap Christian.