Kerusakan akibat serangan AS dan Israel di Iran. (Anadolu Agency)
AS Serang Pusat Kendali di Selat Hormuz usai Tembak Jatuh 4 Drone Iran
Willy Haryono • 28 May 2026 13:29
Washington: Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran setelah menembak jatuh empat drone Iran di sekitar Selat Hormuz, Rabu, 27 Mei 2026.
Serangan itu dilakukan di tengah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pejabat Amerika Serikat menyebut Pasukan Komando Pusat AS menembak jatuh empat drone bunuh diri milik Iran yang dinilai mengancam keamanan di kawasan tersebut. Militer AS juga menyerang pusat kendali drone Iran di Bandar Abbas yang disebut bersiap meluncurkan drone kelima.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran kini berada dalam posisi lemah dan ingin segera mencapai kesepakatan. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” kata Trump saat rapat kabinet di Gedung Putih, dikutip dari media The Telegraph, Kamis, 28 Mei 2026.
Trump menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu tujuan utama negosiasi. Jalur laut strategis itu sebelumnya ditutup Iran setelah pecah konflik pada Februari lalu akibat serangan mendadak AS dan Israel terhadap Iran.
Meski optimistis kesepakatan dapat tercapai, Trump mengakui pembahasan masih menemui hambatan. Ia juga membantah pemilu paruh waktu di Amerika Serikat memengaruhi kebijakannya terhadap Iran.
Di sisi lain, sejumlah politikus Partai Republik mengkritik rancangan kesepakatan tersebut karena dinilai terlalu menguntungkan Iran. Beberapa senator menilai isi perjanjian itu menyerupai kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama yang sebelumnya dibatalkan Trump.
Dalam rancangan kesepakatan, Iran disebut akan menyerahkan persediaan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi sebagai imbalan pencabutan sanksi. Namun, proses pemindahan uranium itu masih dibahas lebih lanjut dalam negosiasi lanjutan.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Angka tersebut dinilai mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk pembuatan senjata nuklir. (Keysa Qanita)
Baca juga: Tekanan Trump Tak Mempan, Iran Pantang Mundur soal Uranium dan Selat Hormuz