Ilustrasi. Foto: Freepik.
Sempat Turun, Harga Emas Masih Berpeluang Menguat?
Eko Nordiansyah • 4 March 2026 12:58
Jakarta: Harga emas dunia kembali menjadi sorotan pasar pada perdagangan hari ini, di tengah tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental yang dirangkum oleh Dupoin Futures melalui analisnya, Andy Nugraha, pergerakan XAU/USD masih berada dalam tren bullish pada timeframe H1, meskipun tanda-tanda pelemahan momentum mulai terlihat dalam jangka pendek.
Pada perdagangan sebelumnya, emas (XAU/USD) tercatat turun lebih dari empat persen setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,059 persen. Kenaikan yield tersebut menjadi faktor penekan utama bagi logam mulia, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil sehingga cenderung kurang menarik saat suku bunga dan yield meningkat.
XAU/USD sempat menyentuh level terendah harian di 4.997 sebelum akhirnya diperdagangkan kembali di sekitar 5.104. Tekanan ini terjadi seiring meningkatnya premi risiko utang AS akibat eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang turut mendorong penguatan Dolar AS ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
"Secara fundamental, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih lama. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS memperkuat pandangan tersebut," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 4 Maret 2026.
Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan kebijakan saat ini sudah tepat dan membuka peluang penurunan suku bunga jika inflasi bergerak sesuai proyeksi. Namun, nada yang lebih hawkish datang dari Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, serta Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, yang menilai inflasi masih terlalu tinggi dan membutuhkan kebijakan ketat lebih lama.
"Sikap ini membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat," jelas dia.
Baca Juga :
Turun Lagi, Harga Perak Antam Hari ini Dibanderol Rp52 Ribu/Gram
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Risiko geopolitik masih jadi penopang harga emas
Ketegangan di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan invasi darat Israel ke Lebanon selatan, memicu kenaikan harga minyak mentah WTI yang melonjak hampir tujuh persen ke level 75,80 dolar AS per barel. Lonjakan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya memperkuat Dolar AS sekaligus menekan emas dalam jangka pendek."Namun, dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, arus pelarian ke aset safe haven berpotensi membatasi penurunan lebih dalam pada logam mulia," kata dia.
Dari sisi teknikal, Andy menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick terbaru dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada XAU/USD mulai melemah, meski belum sepenuhnya berbalik arah. Hal ini menandakan adanya fase konsolidasi setelah volatilitas tinggi beberapa sesi terakhir.
"Dengan struktur harga yang masih berada di atas rata-rata pergerakan utama pada timeframe H1, bias jangka pendek tetap cenderung bullish, namun perlu diwaspadai potensi koreksi," ungkapnya.
2 skenario utama harga emas
Jika tekanan beli kembali mendominasi dan harga mampu bertahan di atas area psikologis 5.100, maka XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan menuju resistance terdekat di kisaran 5.225. Level ini menjadi target upside jangka pendek apabila sentimen safe haven kembali menguat atau data ekonomi AS mengecewakan pasar.Sebaliknya, apabila harga gagal mempertahankan momentum naik dan tekanan jual kembali meningkat, maka potensi koreksi terdekat berada di area 5.086. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka ruang pelemahan lanjutan menuju area support berikutnya, seiring dominasi Dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi.
"Dengan latar belakang fundamental yang kompleks antara tekanan suku bunga tinggi dan dukungan risiko geopolitik, pergerakan emas hari ini diperkirakan akan tetap volatil. Investor dan trader disarankan mencermati rilis data PMI Jasa AS serta perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah sebagai katalis utama arah pergerakan XAU/USD selanjutnya," ujar Andy.