Ilustrasi Freepik
Mengenal 3 Metode Tindakan Medis untuk Koreksi Penglihatan
Whisnu Mardiansyah • 30 July 2026 22:24
Jakarta: Teknologi penanganan koreksi penglihatan kini semakin canggih, baik yang melalui prosedur operasi maupun non-operasi. Terdapat sejumlah pilihan prosedur medis yang dapat dilakukan, baik melalui tindakan berbasis laser maupun prosedur non-laser disesuaikan dengan hasil pemeriksaan menyeluruh serta kondisi mata masing-masing pasien.
Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospital and Clinics dr Sharita R Siregar, mengungkapkan bahwa pasien memiliki beberapa opsi tergantung pada hasil skrining dan kelayakan medis.
"Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan jika ingin bebas kacamata, bisa lewat lasik, ataupun lewat ReLEx SMILE, ataupun lewat lasik ekstra, itu semuanya ada," kata Rita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026
Untuk prosedur berbasis laser, pertama lasik atau Laser-Assisted In Situ Keratomileusis merupakan metode yang paling umum dikenal. Prosedur ini menggunakan laser untuk membentuk ulang kornea sehingga cahaya dapat difokuskan dengan tepat di retina.
Kedua, ada ReLEx SMILE atau Small Incision Lenticule Extraction. Metode ini merupakan prosedur minimal invasif yang hanya membutuhkan sayatan kecil pada kornea untuk mengangkat jaringan lenticule.
Dibandingkan lasik konvensional, ReLEx SMILE diklaim memiliki masa pemulihan yang lebih cepat dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Metode lain yang tersedia adalah lasik ekstra, yang merupakan pengembangan dari teknologi lasik konvensional dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Ketiga, bagi pasien yang tidak memenuhi syarat untuk prosedur berbasis laser, metode non-laser berupa tanam lensa atau Implantable Collamer Lens (ICL) bisa menjadi opsi. Prosedur ini dilakukan dengan menanamkan lensa buatan di dalam mata tanpa mengubah jaringan kornea.
Metode tanam lensa menjadi alternatif bagi pasien dengan ketebalan kornea yang tidak memadai, mata kering berat, atau tingkat kelainan refraksi yang terlalu tinggi untuk ditangani dengan laser.
Sebelum menentukan metode yang tepat, setiap pasien wajib menjalani pemeriksaan komprehensif. Sharita menjelaskan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya memiliki ketebalan kornea yang memadai, tidak menggunakan lensa kontak selama dua minggu sebelum pemeriksaan, berusia minimal 18 tahun, serta tidak sedang hamil maupun menyusui.
Prosedur laser vision correction dapat diselesaikan dalam satu hari apabila pasien telah memenuhi seluruh persyaratan medis. Namun, pemeriksaan skrining tetap menjadi langkah wajib untuk memastikan kondisi mata memenuhi syarat dan prosedur dapat dilakukan dengan aman.
Sharita menilai minat masyarakat terhadap prosedur bebas kacamata terus meningkat, seiring gaya hidup yang semakin aktif. Tren olahraga seperti hyrox dan padel, menurutnya, menjadi salah satu alasan banyak orang mulai mempertimbangkan tindakan koreksi penglihatan.
"Sekarang ini semua orang maunya hyrox ataupun padel, jadi apapun yang mengganggu olahraga itu biasanya langsung mereka pikirkan kalau bisa bebas kacamata," ujar Sharita.
Ia menekankan pentingnya konsultasi dan pemeriksaan bersama dokter spesialis mata sebelum menjalani tindakan koreksi penglihatan. Dengan evaluasi yang tepat, pasien dapat memperoleh rekomendasi prosedur yang paling sesuai sehingga hasil yang dicapai lebih optimal dan aman sesuai kondisi kesehatan mata masing-masing.
Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospital and Clinics dr Sharita R Siregar, mengungkapkan bahwa pasien memiliki beberapa opsi tergantung pada hasil skrining dan kelayakan medis.
"Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan jika ingin bebas kacamata, bisa lewat lasik, ataupun lewat ReLEx SMILE, ataupun lewat lasik ekstra, itu semuanya ada," kata Rita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026
Untuk prosedur berbasis laser, pertama lasik atau Laser-Assisted In Situ Keratomileusis merupakan metode yang paling umum dikenal. Prosedur ini menggunakan laser untuk membentuk ulang kornea sehingga cahaya dapat difokuskan dengan tepat di retina.
Kedua, ada ReLEx SMILE atau Small Incision Lenticule Extraction. Metode ini merupakan prosedur minimal invasif yang hanya membutuhkan sayatan kecil pada kornea untuk mengangkat jaringan lenticule.
Dibandingkan lasik konvensional, ReLEx SMILE diklaim memiliki masa pemulihan yang lebih cepat dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Metode lain yang tersedia adalah lasik ekstra, yang merupakan pengembangan dari teknologi lasik konvensional dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Ketiga, bagi pasien yang tidak memenuhi syarat untuk prosedur berbasis laser, metode non-laser berupa tanam lensa atau Implantable Collamer Lens (ICL) bisa menjadi opsi. Prosedur ini dilakukan dengan menanamkan lensa buatan di dalam mata tanpa mengubah jaringan kornea.
Metode tanam lensa menjadi alternatif bagi pasien dengan ketebalan kornea yang tidak memadai, mata kering berat, atau tingkat kelainan refraksi yang terlalu tinggi untuk ditangani dengan laser.
Sebelum menentukan metode yang tepat, setiap pasien wajib menjalani pemeriksaan komprehensif. Sharita menjelaskan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya memiliki ketebalan kornea yang memadai, tidak menggunakan lensa kontak selama dua minggu sebelum pemeriksaan, berusia minimal 18 tahun, serta tidak sedang hamil maupun menyusui.
Prosedur laser vision correction dapat diselesaikan dalam satu hari apabila pasien telah memenuhi seluruh persyaratan medis. Namun, pemeriksaan skrining tetap menjadi langkah wajib untuk memastikan kondisi mata memenuhi syarat dan prosedur dapat dilakukan dengan aman.
Sharita menilai minat masyarakat terhadap prosedur bebas kacamata terus meningkat, seiring gaya hidup yang semakin aktif. Tren olahraga seperti hyrox dan padel, menurutnya, menjadi salah satu alasan banyak orang mulai mempertimbangkan tindakan koreksi penglihatan.
"Sekarang ini semua orang maunya hyrox ataupun padel, jadi apapun yang mengganggu olahraga itu biasanya langsung mereka pikirkan kalau bisa bebas kacamata," ujar Sharita.
Ia menekankan pentingnya konsultasi dan pemeriksaan bersama dokter spesialis mata sebelum menjalani tindakan koreksi penglihatan. Dengan evaluasi yang tepat, pasien dapat memperoleh rekomendasi prosedur yang paling sesuai sehingga hasil yang dicapai lebih optimal dan aman sesuai kondisi kesehatan mata masing-masing.