Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembangunan Tower 3 Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS).
Strategi RS Domestik Tekan Laju Pasien ke Luar Negeri
18 December 2024 18:48
Jakarta: Sektor kesehatan Indonesia kembali melakukan langkah agresif untuk membendung arus pasien yang berobat ke mancanegara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kerugian negara akibat belanja medis warga di luar negeri mencapai lebih dari Rp165 triliun setiap tahunnya. Ketertinggalan teknologi dan kompleksitas layanan menjadi faktor utama yang kini coba dijawab melalui ekspansi infrastruktur medis skala besar.
Hal itu yang membuat Mayapada Healthcare Group memulai ekspansi pembangunan Tower 3 Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS).
Proyek ini dirancang untuk menutup celah layanan spesialis yang selama ini menjadi alasan utama pasien Indonesia terbang ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Proyek itu ditandai dengan kerja sama konstruksi bersama China State Construction Engineering Corporation (CSCEC), perusahaan kontraktor asal Tiongkok.
Pembangunan diarahkan untuk mengakomodasi kebutuhan layanan medis kompleks yang selama ini sering dicari pasien Indonesia ke luar negeri.
Berdasarkan data teknis proyek, fasilitas ini akan difokuskan pada layanan spesialisasi seperti kedokteran nuklir untuk kanker, bedah tumor otak non-invasif, hingga ortopedi berbasis robotik.
CEO Mayapada Healthcare, Navin Sonthalia mengatakan, pembangunan ini bukan sekadar perluasan fisik, melainkan upaya menghadirkan teknologi medis mutakhir yang selama ini menjadi alasan utama pasien mencari pengobatan ke mancanegara.
"Infrastruktur ini dirancang untuk mengakomodasi teknologi modern dengan mengutamakan efisiensi dan keberlanjutan jangka panjang," ujar Navin.
Gedung baru ini diproyeksikan menjadi rumah sakit swasta dengan total luas bangunan terbesar di Indonesia, yakni mencapai 110.209 meter persegi.
Berdiri di atas lahan seluas 26.917 m², bangunan tersebut akan mencakup 24 lantai dan 4 lantai basement.
Selain pembangunan fisik, Mayapada menggandeng Apollo Hospitals dari India untuk program alih pengetahuan (knowledge transfer) bagi tenaga medis lokal.
Langkah ini diambil untuk memastikan standarisasi layanan pada unit-unit unggulan (center of excellence) yang akan beroperasi di sana. Proyek ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2027.
Pemilihan CSCEC sebagai mitra konstruksi merujuk pada portofolio perusahaan tersebut dalam membangun fasilitas kesehatan berskala besar di beberapa negara seperti Kamboja, Laos, dan Tiongkok dengan kapasitas hingga 2.000 tempat tidur.
Di Indonesia sendiri, CSCEC tercatat terlibat dalam sejumlah proyek strategis nasional termasuk infrastruktur jalan tol dan pabrik.