Siklon Tropis ARNAB Menjauh dari Indonesia, BMKG Pantau Siklonik Baru di Andaman

Siklon Tropis ARNAB. (Foto: BMKG)

Siklon Tropis ARNAB Menjauh dari Indonesia, BMKG Pantau Siklonik Baru di Andaman

Lukman Diah Sari • 27 October 2026 15:14

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Siklon Tropis ARNAB yang tengah berkembang di Teluk Benggala terus bergerak menjauhi perairan Nusantara. Dengan demikian, sistem siklonik ini diprakirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca dan perairan di Indonesia, termasuk wilayah Sumatra bagian utara.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan hasil analisis termutakhir pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB. Sistem badai tersebut saat ini terpantau berada pada titik koordinat 15,9 derajat LU dan 86,0 derajat BT dengan kecepatan angin maksimum menyentuh 65 knot (120 km/jam) dan tekanan udara minimum 985 hPa.

"Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis ARNAB diprakirakan bergerak ke arah barat laut menuju posisi sekitar 16,2 derajat LU dan 82.8 derajat BT dengan intensitas yang berpotensi meningkat hingga mencapai kecepatan angin maksimum 70 knot," kata Andri di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.

Andri merinci, dalam 48 jam ke depan, badai ini diprakirakan akan melemah saat menghantam daratan India. Siklon tersebut diproyeksikan semakin merosot menjadi kategori Tropical Low dalam kurun waktu 72 jam ke depan lantaran posisinya yang terus beringsut menjauh hingga ke luar wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.

Sirkulasi Siklonik Baru

Meski ancaman Siklon ARNAB mereda, BMKG kini tengah mendeteksi potensi pembentukan sirkulasi siklonik baru di sekitar Laut Andaman. Fenomena yang mulai terdeteksi sejak hari ini berisiko memicu daerah konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan konvektif.

Siklon Tropis ARNAB. (Foto: BMKG)

Kondisi tersebut memperbesar peluang terjadinya hujan berintensitas sedang hingga lebat di sebagian wilayah Sumatra bagian utara, khususnya wilayah pesisir Aceh.

"Dalam dua hingga tiga hari ke depan, sirkulasi siklonik di sekitar Laut Andaman berpotensi berkembang dan bergerak ke arah barat-barat laut, semakin menjauhi wilayah Indonesia," ungkap Andri.

Menyikapi dinamika atmosfer ini, BMKG akan terus menyiagakan instrumen pemantauannya dalam 1-2 hari ke depan melalui analisis terpadu berbasis data pengamatan dan citra satelit. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan senantiasa memperbarui informasi peringatan dini cuaca secara resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, maupun media sosial.

(Lukman Diah Sari)