Demonstrasi pelajar menentang pemerintah membawa tong sampah. Foto: Viory
Pelajar Prancis Dorong Tempat Sampah ke Arah Polisi dalam Protes Terbaru
Fajar Nugraha • 6 November 2026 10:49
Paris: Pelajar di Paris, Prancis memulai kembali protes menentang pemerintahan. Dalam aksinya, para pelajar mendorong tempat sampah dan memukuli tutupnya ke arah polisi dalam aksi mogok nasional.
“Tuntutan mereka masih sama, aksi mogok nasional menuntut kenaikan upah serta peningkatan pendanaan untuk layanan publik,” sebut laporan dari Viory, Jumat 6 November 2026.
Rekaman menunjukkan para pengunjuk rasa berpawai melintasi ibu kota dan melemparkan benda-benda ke arah petugas. Polisi menggunakan kekerasan untuk memukul mundur para demonstran dan membubarkan massa.
Aksi mogok ini awalnya diserukan oleh lima serikat pekerja, termasuk CGT, CFDT, FO, FSU, dan UNSA dengan tuntutan berupa kenaikan upah dan pensiun, perlindungan kerja, serta investasi yang lebih besar dalam layanan publik. Serikat pekerja lainnya kemudian turut bergabung dalam seruan tersebut.
Para pelajar universitas dan sekolah menengah menuntut kondisi pembelajaran yang lebih baik, penambahan jumlah guru, serta pendanaan pendidikan yang lebih besar. Tuntutan ini membuat aksi mereka berjalan beriringan dengan kampanye para pekerja terkait upah dan biaya hidup.
CGT mencatat ada 244 rencana demonstrasi di seluruh Prancis untuk hari Kamis. Mobilisasi ini menyusul rangkaian protes selama bulan Oktober dan juga mendapat dukungan dari kelompok pengunjuk rasa "Rompi Kuning" (Yellow Vest). Aksi ini diperkirakan akan menyebabkan gangguan di sekolah-sekolah maupun layanan kereta api.
Di Paris, ketegangan muncul setelah adanya pembatasan terhadap aksi pawai pelajar lainnya pada hari Selasa. Kelompok Interfac Ile-de-France sempat mengusulkan rute dari Panthéon menuju kantor pusat Medef -,organisasi pengusaha utama di Prancis,- namun polisi menolak rute tersebut dan menawarkan rute alternatif di pinggiran ibu kota.
Meski demikian, ratusan pelajar tetap berkumpul di kawasan Latin Quarter pada Selasa. Pada hari yang sama, Kementerian Pendidikan Tinggi melaporkan adanya gangguan di 51 dari 184 institusi pendidikan tinggi di Prancis, sementara organisasi pelajar mengeklaim bahwa lebih dari 50 kampus universitas telah diblokade.