Serangan Drone Hantam Pengungsian di Ethiopia, 16 Warga Sipil Tewas

Deretan tenda yang ditempati pengunsi Ethiopia. Foto: Anadolu

Serangan Drone Hantam Pengungsian di Ethiopia, 16 Warga Sipil Tewas

Fajar Nugraha • 30 October 2026 19:57

Amhara: Setidaknya 16 warga sipil tewas dan 22 orang lainnya terluka pada Kamis 29 Oktober 2029 ketika serangan pesawat nirawak (drone) menghantam sebuah kamp bagi orang-orang yang terusir akibat konflik di wilayah Amhara, Ethiopia bagian utara.

Menurut keterangan warga, serangan tersebut menyasar kamp Hayiq Jari 2 Turk di dekat kota Hayiq, sekitar 430 kilometer di timur laut ibu kota Addis Ababa. Korban tewas mencakup tiga wanita hamil, seorang anak perempuan berusia 8 tahun, serta sejumlah pelajar.

"Pesawat nirawak itu menghantam kamp tersebut setidaknya lima kali, dengan jeda waktu 15 menit, saat para pengungsi internal (IDP) berada di dalam tempat penampungan mereka. Kami tidak pernah menyangka akan ada serangan pesawat nirawak ke kamp ini," ujar seorang saksi mata kepada media berita Ethiopia, Addis Standard, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 30 Oktober 2026.

Kelompok pemantau konflik, Frontlines Ethiopia, juga mendokumentasikan serangan pada 29 Oktober tersebut, sementara laporan lokal lainnya menyebutkan adanya serangan menggunakan pesawat nirawak maupun artileri di area tersebut.

Warga menuturkan bahwa lebih dari 20 tempat penampungan terbakar, memaksa keluarga-keluarga untuk melarikan diri dan menyebabkan anak-anak terpisah dari kerabat mereka.

Para korban luka dibawa ke Rumah Sakit Hayiq, sementara mereka yang berada dalam kondisi serius dirujuk ke Rumah Sakit Dessie untuk mendapatkan perawatan khusus.

Kamp tersebut menampung lebih dari 1.800 pengungsi internal, yang banyak di antaranya melarikan diri dari kekerasan di wilayah Oromia, termasuk dari kawasan Wollega.

Serangan ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan bagi keluarga-keluarga yang sebelumnya telah menghadapi kekurangan pangan, obat-obatan, dan tempat tinggal akibat pengurangan bantuan.

Wilayah Amhara telah mengalami pertempuran berkepanjangan antara pasukan keamanan federal dan milisi Fano sejak tahun 2023, di mana operasi militer -,termasuk serangan pesawat nirawak,- berdampak pada masyarakat sipil.

Kekerasan ini terjadi di tengah ketidakstabilan yang lebih luas di Ethiopia, termasuk pertempuran yang kembali pecah di wilayah Tigray bagian utara serta meningkatnya ketegangan dengan negara tetangga, Eritrea.

(Fajar Nugraha)