Kantongi Izin Edar BPOM, Emiten PYFA Perluas Portofolio Produk Farmasi

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Kantongi Izin Edar BPOM, Emiten PYFA Perluas Portofolio Produk Farmasi

Ade Hapsari Lestarini • 4 October 2026 21:27

Jakarta: PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) memperluas portofolio produk farmasi setelah memperoleh Persetujuan Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk produk dengan komposisi Fenofibrate 145 mg.

Persetujuan tersebut diserahkan Kepala BPOM Taruna Ikrar kepada Direktur PYFA Bedjo Stefanus di Bandung, Jawa Barat. Fenofibrate merupakan obat golongan fibrat yang digunakan dalam pengelolaan gangguan lipid. Obat tersebut bekerja antara lain dengan membantu menurunkan kadar trigliserida dan memperbaiki profil lipid dalam darah.

Direktur PYFA Bedjo Stefanus mengatakan perolehan izin edar tersebut membuka peluang bagi perseroan untuk memperluas portofolio produk kesehatan.

"Bagi kami, perolehan NIE bukan hanya menjadi pencapaian regulasi, tetapi juga membuka peluang bagi PYFA untuk terus memperluas portofolio dan menghadirkan lebih banyak produk kesehatan yang menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia," ujar Bedjo, dalam keterangan tertulis, Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurut perseroan, pengembangan produk Fenofibrate menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan terapi bagi pasien dengan gangguan lipid.

Pengelolaan kadar lipid menjadi salah satu bagian dalam pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular. Gangguan lipid dapat berkaitan dengan pembentukan plak yang berpotensi menyebabkan penyempitan atau penyumbatan arteri.


Emiten PYFA kantongi izin edar BPOM untuk obat fenofibrate. Foto: dok PYFA.
 

Beban penyakit kardiovaskular


Pengembangan obat untuk gangguan lipid berlangsung di tengah tingginya beban penyakit tidak menular, termasuk penyakit kardiovaskular dan stroke.

PYFA mengutip publikasi Profil Kesehatan Indonesia Kementerian Kesehatan yang menyebut penyakit jantung dan stroke sebagai dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Perseroan juga merujuk data realisasi BPJS Kesehatan hingga September 2026 yang mencatat biaya penanganan penyakit jantung mencapai Rp17,35 triliun, sedangkan stroke sebesar Rp7,21 triliun.

Data tersebut menunjukkan besarnya beban pembiayaan yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. Namun, dampak langsung produk Fenofibrate PYFA terhadap penurunan biaya kesehatan nasional belum dapat disimpulkan dari perolehan izin edar tersebut.

Selain memperluas portofolio, PYFA juga tengah menambah kapasitas manufaktur. Perseroan menyebut fasilitas produksi injeksi steril pada Lini 3 telah selesai dibangun dan dijadwalkan memasuki fase produksi komersial pada awal 2027.

Penambahan fasilitas tersebut menjadi bagian dari pengembangan kapasitas produksi perseroan seiring dengan ekspansi portofolio produk farmasi. Dengan diperolehnya izin edar Fenofibrate 145 mg dan penambahan fasilitas produksi, PYFA melanjutkan pengembangan bisnis melalui perluasan produk sekaligus peningkatan kapasitas manufaktur.

(Ade Hapsari Lestarini)