Program Q&A edisi Bukan Bisa Biasa. Dok. Metro TV
Dr. Tri Maharani dan Minimnya Subspesialis Toksinologi di Indonesia
Muhamad Marup • 27 September 2026 22:50
Jakarta: Indonesia memiliki ratusan jenis ular, termasuk jenis berbisa. Mesk begitu, hanya ada satu dokter toksinologi di Indonesia yaitu dr. Tri Maharani.
"Pekerjaan ini agak berbeda dengan pekerjaan pada umumnya ya," ujar dr. Tri dalam program Q&A Metro TV, Minggu, 27 September 2026.
Dr. Tri Maharani merupakan satu dari 53 dokter spesialis emergensi dengan subspesialis toksinologi klinis di dunia. Wanita kelahiran Kediri 55 tahun yang lalu ini secara khusus menangani gejala keracunan akibat gigitan ular berbisa.
Dr. Tri menilai, pekerjaannya tidak dilihat berdasarkan berapa uang yang dihasilkan. Menurutnya, tujuan paling penting dari profesi yang ia geluti adalah berapa nyawa yang bisa diselamatkan.
Ia menceritakan, sebagai satu-satunya dokter spesialis emergensi, ia harus siaga selama 24 jam. Selain itu, kasus yang ia tangani juga tidak hanya mencakup bisa gigitan ular, tapi juga jenis-jenis hewan lain.
"Dan kita tahu keracunan itu jam berapa saja kan ya," jelasnya.
Dr. Tri menyebut, ia memang memiliki ketertarikan khusus terhadap bisa gigitan ular. Salah satunya karena jumlah kasus gigitan ular di Indonesia per hari mencapai 10 sampai 50 kasus.
Ia menambahkan, estimasi data insiden gigitan ular itu 135 ribu per tahunnya. Angka tersebut lebih tinggi dari HIV dan lebih rendah dari kanker.
"Jadi ini 10 penyakit terbanyak. Tapi memang neglected alias terabaikan. Nah itulah yang membuat tidak banyak dokter tidak tertarik," katanya.
Dokter spesialis toksinologi, dr. Tri Maharani, dalam program Q&A edisi Bukan Bisa Biasa. Dok. Metro TV
Tingkatkan Minat Spesialis Toksinologi
Dr. Tri juga berkeinginan untuk membuka subspesialis di Indonesia. Hal ini untuk menjawab kurangnya dokter spesialis di Indonesia."Saya kan ingin membuat sebuah subspesialis toksinologi di Indonesia. Moga-moga saya bisa mendapatkan banyak respons dan interes ya," terangnya.
Dr. Tri menyebut Indonesia memiliki 380 jenis ular di mana 80 di antaranya merupakan ular berbisa. Dengan jumlah tersebut, Indonesia merupakan negara tertinggi jumlah kasus gigitan ular di Asia Tenggara.
"Paling banyak itu Brasil dan Kongo karena negara besar untuk spesialis ular. Sementara Indonesia di Asia Tenggara nomor satu," tuturnya.
Dr. Tri juga menerangkan, alasannya ingin membuat subspesialis toksinologi minimnya jumlah spesialis toksinologi karena proses pendidikan yang panjang. Di sisi lain, program studi khusus untuk bidang tersebut juga belum ada.
"Kalau tidak seperti itu (proses pendidikan), maka ilmunya tidak komprehensif," katanya.
Ia juga mengharapkan agar ada apresiasi lebih terhadap profesinya untuk menarik minat para dokter lain. Tidak melulu soal uang, apresiasi juga bisa dari segi riset antibisa ular.
Baca Juga :
Bukan ‘Bisa' Biasa
Pada tahun 2015, Dokter Tri Maharani mendirikan Remote Invenomation Consultancy Services Indonesia, sebuah layanan konsultasi gratis 24 jam untuk membantu tenaga kesehatan menangani gigitan ular berbisa. Demi menyelamatkan nyawa pasien, tak jarang pergi ke luar negeri dengan biayanya sendiri demi membawa pulang antivenom yang tidak tersedia di Indonesia