Pemadaman listrik yang terjadi di Kuba. Foto: Anadolu
Listrik Padam Total di Kuba, Krisis Energi Kian Memburuk
Fajar Nugraha • 7 July 2026 17:56
Havana: Pemadaman listrik melanda seluruh wilayah Kuba pada Senin, 6 Juli 2026, di tengah menipisnya cadangan bahan bakar dan memburuknya kondisi jaringan listrik yang telah menua.
Perusahaan listrik milik negara, Electric Union, menyatakan penyebab pemadaman masih dalam penyelidikan, sementara Kementerian Energi dan Pertambangan mengaktifkan protokol pemulihan pasokan listrik.
Krisis energi di Kuba semakin memburuk sejak awal 2026 setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut memperparah krisis ekonomi dan keuangan yang telah berlangsung di negara berpenduduk hampir 10 juta jiwa itu.
Kekurangan bahan bakar berdampak luas terhadap layanan publik. Transportasi umum sebagian besar terhenti, puluhan ribu operasi medis dibatalkan, dan pemerintah menerapkan pemadaman listrik bergilir yang di sejumlah wilayah dapat berlangsung lebih dari 24 jam.
Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy mengatakan sistem kelistrikan skala kecil mulai beroperasi beberapa jam setelah pemadaman. "Layanan vital tetap dipertahankan di tengah situasi yang kompleks akibat blokade energi yang kami hadapi," ujarnya, dikutip dari media AsiaOne, Selasa, 7 Juli 2026.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menuduh Amerika Serikat berupaya memicu keresahan sosial dengan memperketat pasokan bahan bakar ke negaranya. Ia menyebut para pekerja kelistrikan tetap bekerja keras memulihkan jaringan listrik di tengah krisis yang sedang berlangsung.
Warga Havana mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat pemadaman tersebut. Seorang warga, Lina May, mengatakan keluarganya harus membeli arang agar tetap bisa memasak, sementara warga lain, Richard Valdes, mengeluhkan tidak adanya listrik, air, maupun gas hingga pasokan energi kembali pulih.
Pemerintah Kuba hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan bahan bakarnya sendiri. Pasokan sekitar 730.000 barel minyak yang dikirim Rusia pada akhir Maret juga dilaporkan telah habis pada akhir April, sehingga memperburuk krisis energi yang sebelumnya telah memicu pemadaman besar pada Maret dan Mei 2026.
(Keysa Qanita)