Bertemu Merz di Gedung Putih, Trump Sebut Jerman Bantu Operasi ke Iran

Presiden AS Donald Trump bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz. (EPA-EFE)

Bertemu Merz di Gedung Putih, Trump Sebut Jerman Bantu Operasi ke Iran

Muhammad Reyhansyah • 4 March 2026 13:03

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut Kanselir Jerman Friedrich Merz di Gedung Putih pada Selasa, 3 Maret 2026, dan berterima kasih atas dukungan Berlin terhadap perang AS-Israel yang meluas melawan Iran.

Berbicara di Ruang Oval, Trump mengatakan Jerman telah “membantu” dengan mengizinkan pasukan AS mengakses sejumlah pangkalan militer. Ia juga membandingkan sikap Jerman dengan Inggris dan Spanyol, yang menurutnya mengambil pendekatan berbeda.

Trump menegaskan Washington tidak meminta Jerman mengirim pasukan tempur. 

“Mereka mengizinkan kami mendarat di beberapa lokasi, dan kami menghargainya. Kami tidak meminta mereka menempatkan pasukan di lapangan,” ujarnya, dikutip dari AsiaOne, Rabu, 4 Maret 2026.

Merz mengatakan Jerman dan AS memiliki tujuan yang sama untuk mengakhiri rezim Iran saat ini, namun ia juga menyatakan perang tersebut harus segera diakhiri. Ia mengingatkan bahwa rencana tersebut tidak tanpa risiko.

“Rencana ini bukannya tanpa risiko, dan kami juga harus menanggung konsekuensinya,” kata Merz kepada wartawan setelah pertemuan.

Perang di Iran menjadi isu sensitif secara politik bagi Merz, yang menghadapi potensi kritik di dalam negeri atas dukungan Jerman terhadap operasi AS-Israel.

Sebelumnya, ia tidak secara terbuka mengkritik serangan udara AS, tetapi juga tidak sepenuhnya mendukung operasi tersebut. Para pengkritik Trump menilai serangan itu dilakukan tanpa penjelasan memadai serta tanpa landasan hukum internasional yang jelas.

Merz menegaskan bahwa Jerman belum diminta untuk terlibat langsung dalam konflik, dan jika itu terjadi, diperlukan persetujuan formal parlemen Jerman.

Trump memuji Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik”, seraya menyebut hubungannya dengan Jerman saat ini lebih baik dibanding masa Kanselir sebelumnya, Angela Merkel, yang pernah berselisih pandangan dengannya soal imigrasi dan energi.

Diplomasi Merz bersama Trump

Dalam pertemuan tersebut, Merz juga mengangkat isu perang Rusia di Ukraina. Ia menekankan bahwa Ukraina tidak boleh dipaksa menyerahkan wilayah tambahan.

“Kita semua ingin perang ini segera berakhir. Tetapi Ukraina harus mempertahankan wilayah dan kepentingan keamanannya,” ujar Merz.

Trump memastikan bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina tetap menjadi prioritas tinggi pemerintahannya. Ia juga menyatakan AS memiliki cukup persenjataan untuk menghadapi Iran sekaligus menjualnya ke Eropa guna mendukung Ukraina.

Pertemuan sempat memanas ketika Trump mengancam akan menghentikan seluruh perdagangan dengan Spanyol karena menolak mengizinkan pangkalan militernya digunakan untuk misi terkait Iran. Merz kemudian menjelaskan bahwa Spanyol merupakan bagian dari Uni Eropa dan tidak bisa dikecualikan secara sepihak dari kesepakatan perdagangan.

Merz juga menyerahkan replika perjanjian dagang tahun 1785 antara Amerika Serikat dan Prusia, perjanjian dagang pertama AS sebagai simbol hubungan historis kedua negara.

Di tengah pertemuan tersebut, kekhawatiran Eropa tetap tinggi terhadap legalitas serangan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta ancaman tarif baru yang dilontarkan Trump terhadap barang-barang global.

Jeff Rathke, Presiden American-German Institute di Washington, menilai Merz telah menyampaikan pandangannya dengan jelas, tetapi belum memperoleh kepastian mengenai visi AS terhadap masa depan Iran.

“Saya tidak melihat Trump memberikan jawaban yang dapat meyakinkan Jerman atau sekutu Eropa lainnya tentang seperti apa visi AS untuk Iran dan kemampuan AS untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Baca juga:  Trump Geram Inggris dan Spanyol Tidak Dukung Penuh Serangan AS ke Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)