Anak Rentan Terdampak Campak, Kenali Faktor Risiko dan Penanganannya

Ilustrasi campak. Foto: ANTARA/freepik.com.

Anak Rentan Terdampak Campak, Kenali Faktor Risiko dan Penanganannya

Muhamad Marup • 5 March 2026 16:14

Jakarta: Kasus campak mengalami lonjakan di beberapa wilayah, termasuk DKI Jakarta. Kondisi ini menjadi keresahan masyarakat, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok rentan.

Pakar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Irwanto dr SpA(K) menegaskan bahwa campak dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, rendahnya cakupan vaksinasi di sejumlah daerah membuat penyakit ini semakin mudah menyebar hingga berkembang menjadi wabah. "Vaksin ini mencegah terjadinya komplikasi lebih berat daripada suatu penyakit. Kebetulan kalau campak ini, imunisasi dapat mengurangi risiko komplikasi serius,” ujar Irwanto, mengutip laman resmi Unair, Kamis, 5 Maret 2026.

Faktor Risiko

Wabah campak tidak semata-mata disebabkan cakupan vaksin. Adapun faktor risiko lain sebagai berikut.
  • Status gizi yang buruk dan kurangnya vitamin A juga turut memperbesar risiko anak terjangkit campak.
  • Kondisi tubuh yang lemah membuat daya tahan menurun, sehingga anak lebih mudah terinfeksi.
  • Risiko komplikasi yang berbahaya, mulai dari infeksi paru-paru (pneumonia), gagal napas karena minimnya alat bantu, hingga peradangan otak (ensefalitis).

Gejala Campak

Orang tua harus waspada dan peka terhadap tanda-tanda awal gejala campak. Berikut gejala-gejalanya.
  • Gejala biasanya muncul berupa demam tinggi hingga 40 derajat celcius, disertai batuk, pilek, dan mata merah.
  • Dalam tiga sampai empat hari berikutnya, muncul ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh, serta bercak putih kecil di dalam mulut (koplik spot). 
  • Campak ditandai ruam yang kemudian menghitam sebelum sembuh.

Ilustrasi. Pexels

Penanganan Awal
  • Begitu ruam mulai muncul pada hari ketiga, orang tua harus segera membawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis. Penanganan lebih awal dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.
  • Selain pemeriksaan medis, orang tua juga dapat melakukan penanganan awal di rumah. Seperti memastikan anak mendapat cukup istirahat, banyak minum air tidak dehidrasi, serta memberi obat penurun panas sesuai anjuran.
  • Kebersihan mata juga harus terjaga dan jauhkan dari cahaya yang terang. Penularannya lewat droplet (percikan) saat batuk atau pilek. Jadi lakukan isolasi mandiri agar tidak menular ke orang sekitar.
Pentingnya Imunisasi

Prof Irwanto menyebut bahwa selama cakupan imunisasi di Indonesia masih rendah, maka campak akan tetap menjadi ancaman. Menurut panduan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sambungnya, imunisasi campak idealnya diberikan saat anak berusia sembilan bulan, lalu dilanjutkan booster pada usia 15-18 bulan.

Dia menekankan pentingnya peran pemerintah, tenaga kesehatan, hingga mahasiswa dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. 

"Mari bersama-sama, baik petugas kesehatan maupun masyarakat berbondong-bondong untuk meningkatkan cakupan imunisasi agar wabah campak tidak kembali terulang," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)