Pelatihan pengolahan limbah kayu di Jepara. Foto: Dok. YIS.
Jaga Lingkungan dengan Ubah Limbah Menjadi Aksesori
Ihfa Firdausya • 10 February 2026 07:57
Jakarta: Kota Jepara, Jawa Tengah, selama ini masyhur sebagai jantung industri furnitur tanah air. Namun, di balik kemasyhurannya, tumpukan limbah kayu sering kali hanya berakhir di tempat pembakaran.
Bergerak dari kepedulian terhadap lingkungan dan kemandirian ekonomi, Yayasan Indonesia Setara (YIS) berkolaborasi dengan Bank Infaq, NRC, dan Gentanala untuk menyulap "sampah" kayu tersebut menjadi deretan aksesori bernilai tinggi. Mulai dari holder ponsel hingga liontin resin yang menawan.
"Senang rasanya bisa berkolaborasi. Semoga program ini menjadi langkah awal untuk kolaborasi berikutnya. Hal ini memang menjadi fokus kami sejak lama, untuk memberdayakan potensi bangsa, termasuk perempuan, anak muda, penyandang disabilitas dan masyarakat desa,” ujar Founder YIS, Sandiaga Salahuddin Uno, dalam keterangannya, dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 10 Februari 2026.
Baca Juga :
Sandiaga menekankan bahwa inovasi pengolahan limbah ini sangat relevan dengan karakteristik Jepara. Pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta ini tidak hanya mengajarkan kemampuan teknis (hardskill), tetapi juga memberikan pendampingan daring selama tiga minggu.
Para peserta dibekali ilmu pengembangan usaha, pembuatan konten promosi, hingga strategi digital marketing agar produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Perwakilan NRC, Wawan, menekankan pentingnya kehadiran mentor profesional untuk memicu kreativitas warga lokal dalam menghasilkan karya-karya baru yang inovatif.
"Dengan dibantu Mas Reza, peserta dapat belajar menghasilkan karya-karya baru. Harapan kami, peserta terus mengembangkan produk inovatif di lingkungan mereka," kata Wawan.

Ilustrasi peluang usaha. Foto: Dok. Medcom.id.
Sosok Reza menjadi bukti nyata bahwa limbah kayu jati memiliki masa depan yang cerah. Melalui program Rocket Youthpreneur, ia berhasil mengubah persepsi tentang kayu sisa menjadi produk lifestyle kelas atas yang ramah lingkungan.
"Limbah kayu jati yang biasanya terbuang bisa diolah kembali, menghasilkan produk bernilai jual tinggi, bahkan diekspor. Ini juga turut menjaga lingkungan karena limbah tidak dibakar atau dibuang,” ucap Reza.
Melalui sinergi ini, limbah kayu bukan lagi beban lingkungan, melainkan peluang emas untuk membangun kemandirian ekonomi dari tingkat desa. Dengan kreativitas, sisa potongan kayu jati kini siap melanglang buana sebagai aksesori eksklusif yang membawa semangat kelestarian dari tanah Jawa Tengah.