Eksplorasi 5 Lanskap Perubahan Lewat Karya 43 Seniman di Gwangju Biennale 2026

Pameran Gwangju Bienalle 2026 di Kota Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah

Eksplorasi 5 Lanskap Perubahan Lewat Karya 43 Seniman di Gwangju Biennale 2026

Whisnu Mardiansyah • 7 September 2026 07:58

Gwangju: Gwangju Biennale ke-16 bertajuk You Must Change Your Life mulai dibuka untuk publik mulai 5 September hingga 15 November 2026 di Gwangju Biennale Exhibition Hall, Korea Selatan. Sebelum dibuka untuk umum, pameran menggelar sesi pratinjau pada 4 September.

You Must Change Your Life menjadi judul sekaligus gagasan utama dalam penyelenggaraan Biennale tahun ini. Frasa tersebut diambil dari baris terakhir puisi karya penyair Rainer Maria Rilke.

Puisi itu mengisahkan perjumpaan Rainer dengan sebuah patung kuno yang telah rusak. Pengalaman tersebut mengubah cara pandang orang yang melihatnya dan menghadirkan kesadaran untuk tidak lagi menjalani kehidupan dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Sebanyak 43 seniman dan kelompok seni dihadirkan. Pameran dikuratori Direktur Artistik Ho Tzu Nyen bersama Che Kyongfa, Gahee Park, dan Brian Kuan Wood. Seluruh karya ditempatkan dalam satu gedung dan dirancang seperti perjalanan melalui lima ruang dengan karakter serta perspektif berbeda.

“Kami menggambarkan Biennale sebagai ajang yang membawa pengunjung melintasi berbagai skala dan perubahan. Kami melihat sebagai sebuah perjalanan melalui berbagai dunia, masing-masing dengan lanskap, atmosfer, ritme, dan skalanya sendiri. Biennale ini mengajak kami untuk berpikir, belajar, dan bermimpi tentang perubahan di semua skala dan bidang, dan kami sangat bersemangat untuk berbagi perjalanan itu dengan masyarakat Gwangju,” kata Direktur Artistik Ho Tzu Nyen di Gwangju, Minggu, 6 September 2026.

Pameran ini menempatkan perubahan sebagai proses yang dapat berlangsung dengan kecepatan berbeda. Transformasi tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa mendadak, tetapi juga dapat berlangsung secara perlahan, berulang, dan membutuhkan waktu panjang.

Salah satu contohnya praktik seni Tehching Hsieh. Seniman tersebut mengeksplorasi perubahan dalam rentang waktu panjang melalui pertunjukan selama satu tahun.

Dalam salah satu karyanya, Hsieh melakukan tindakan yang sama setiap satu jam, baik siang maupun malam, selama setahun. Pengulangan menjadi cara untuk melihat perubahan melalui proses yang berlangsung terus-menerus.

Sebaliknya, perubahan yang terjadi secara cepat juga ditampilkan melalui pameran instalasi batuan vulkanik dari Pulau Jeju. Batuan tersebut merekam proses dari mulai letusan, pergerakan, gravitasi, panas, tekanan, aliran, pendinginan, serta waktu. Material seperti letusan vulkanik, stalaktit, dan stalagmit menjadi bagian dari karya yang ditampilkan di sejumlah ruang pamer.


Pameran Gwangju Bienalle 2026 di Kota Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah

 

Menelusuri Lima Lanskap

Konsep pameran dibangun melalui lima galeri yang memiliki medan, suasana, ritme, serta pengalaman ruang berbeda. Karya-karya di dalamnya tidak disusun untuk menerangkan satu tema secara linear, melainkan ditempatkan sebagai menjadi bagian lanskap yang saling berhubungan.

Pertama galeri Molecules and Me, galeri ini mengeksplorasi materi yang terus bergerak, bercampur, serta mengalami perubahan. Karya-karya di dalamnya bergerak dari skala molekul hingga sekumpulan molekul. Hubungan yang terus berubah menjadi bagian penting dalam ruang ini.

Seniman yang ditampilkan antara lain Nina Canell, Goldin+Senneby, Rossella Biscotti, Maya Watanabe, dan Jean Barth. Kedua, galeri Bodies and Bonds. Karya-karya di galeri ini berkaitan dengan eksplorasi latihan fisik dan mental serta tekanan yang muncul dalam hubungan keluarga.

Amanda Heng, Tehching Hsieh, Geumhyung Jeong, A K Dolven, dan Mona Benyamin menjadi seniman yang ditampilkan di galeri tersebut.

Ketiga, galeri Landscapes and Learning. galeri mengangkat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Manusia mengolah serta mengubah lanskap, sementara lanskap turut membentuk kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Seniman yang hadir meliputi CAMP, Rim Dong Sik, Nature Artist Woo Pyongnam (Jongsun), Huh Baek-ryun, Christian Nyampeta, Lygia Clark, serta para pelukis Ullimsanbang dari keluarga Huh.

Keempat, galeri Cosmos and Change. Ruang keempat membawa pengunjung pada lanskap malam yang berkaitan dengan waktu planet, mitologi, mimpi leluhur, dan gambaran mengenai dunia di luar manusia.

Karya gambar bergerak serta material geologi mulai dari keramik dan batuan vulkanik. Karya-karya tersebut menjadi medium untuk melihat hubungan antara mimpi masa lalu, pengalaman saat ini, dan bayangan mengenai masa depan.

Saodat Ismailova, Sohrab Hura, Nam Hwayeon, Bhenji Ra, Lu Yang, dan Wang Tuo termasuk seniman yang ditampilkan di ruang ini.

Terakhir, Air and Articulations. Galeri ini berfokus pada udara. Karakter ruang dibuat sedemikian rupa hingga nyaris tidak terlihat seperti ruangan pada umumnya. Di pusat galeri terdapat Not Exactly BPM (Variation Rrose) (2026) karya Jacqueline Kiyomi Gork. 


Pameran Gwangju Bienalle 2026 di Kota Gwangju, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah


Sejarah Gwangju Bienalle
 

Gwangju memiliki posisi khusus dalam sejarah modern Korea Selatan. Sebelum dikenal sebagai salah satu pusat seni kontemporer Asia, kota ini terlebih dahulu dikenal sebagai salah satu episentrum perjuangan demokrasi Korea Selatan.

Peristiwa paling menentukan terjadi pada 18 Mei 1980, ketika masyarakat Gwangju melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer dan menuntut demokratisasi. Gerakan tersebut muncul setelah pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok militer yang dipimpin Chun Doo-hwan.

Setelah Presiden Park Chung-hee terbunuh pada Oktober 1979, Korea Selatan memasuki periode ketidakpastian politik. Harapan masyarakat terhadap demokratisasi meningkat, tetapi pada 12 Desember 1979 kelompok militer yang dipimpin Chun Doo-hwan mengambil alih kendali militer melalui kudeta.

Pada Mei 1980, pemerintah memperluas pemberlakuan darurat militer. Mahasiswa dan masyarakat Gwangju kemudian turun ke jalan menuntut pencabutan darurat militer dan pemulihan demokrasi. Aparat militer melakukan tindakan represif terhadap demonstran.

Menurut arsip sejarah demokrasi Korea, perlawanan masyarakat Gwangju berlangsung selama sekitar sepuluh hari, 18-27 Mei 1980. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah gerakan demokratisasi Korea Selatan.

Pemerintah Kota Gwangju juga menempatkan 5·18 sebagai peristiwa yang memperlihatkan nilai universal demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian. 

Pada awalnya, peristiwa Gwangju berada di bawah tekanan sensor dan narasi resmi pemerintah militer. Namun, ingatan mengenai kekerasan terhadap masyarakat sipil terus hidup melalui keluarga korban, mahasiswa, aktivis, seniman, penulis, dan kelompok masyarakat sipil.

Gwangju Biennale didirikan pada 1994 dan penyelenggaraan pertamanya berlangsung pada 1995. Pendirian tersebut memiliki hubungan langsung dengan upaya memperingati Gerakan Demokratisasi Gwangju sekaligus memperingati 50 tahun pembebasan Korea dari penjajahan Jepang. 

Edisi pertama berlangsung 20 September-20 November 1995 dengan tema "Beyond the Borders" atau "Melampaui Batas". Pameran tersebut melibatkan 49 negara dan 87 seniman. 

Hubungan antara Gwangju Biennale dan demokratisasi semakin terlihat dari karya-karya yang ditampilkan sepanjang sejarah penyelenggaraannya. Salah satu karakter penting Gwangju Biennale adalah penggunaan seni kontemporer untuk membicarakan sejarah, ingatan, trauma, hak asasi manusia, perdamaian, dan demokrasi.

Dalam berbagai penyelenggaraan, karya seni tidak hanya ditempatkan sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai medium untuk mempertanyakan bagaimana sebuah masyarakat mengingat masa lalu. Dalam perkembangannya, hubungan antara Biennale dan demokrasi kemudian dirumuskan dalam konsep yang sering disebut "Gwangju Spirit."

Semangat tersebut mencakup nilai demokrasi, revolusi, solidaritas atau komunitas, hak asasi manusia dan perdamaian. Gwangju Biennale Foundation menjelaskan, sejak berdiri, Biennale mempertahankan nilai budaya 5·18 sekaligus menjadikan seni kontemporer sebagai medium untuk membicarakan persoalan masyarakat masa kini. 

Dalam tiga dekade penyelenggaraannya, tema yang dibahas berkembang menjadi persoalan global, seperti perubahan iklim, identitas, ras, gender, migrasi, ketidaksetaraan, kolonialisme, perang, demokrasi, dan hak asasi manusia.

(Whisnu M)