17 pelajar kolaborasi ubah kain sisa jadi karya kreatif bernilai. Foto: dok istimewa.
Dari Limbah ke Karya Bernilai, Kain Perca Disulap Jadi Peta Indonesia
Ade Hapsari Lestarini • 6 September 2026 08:10
Tangerang Selatan: Sebanyak 17 pelajar dari lima sekolah di Jakarta mengolah kain perca yang berpotensi menjadi limbah menjadi karya seni bernilai. Melalui proyek Weaving Nusantara, material sisa tersebut disusun menjadi peta Indonesia berukuran 2,5 meter × 1,5 meter sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan amal untuk mendukung penyandang disabilitas.
Proyek tersebut memadukan kreativitas, pemanfaatan kembali material, fashion, dan inklusi sosial. Peta Indonesia dari kain perca menjadi salah satu daya tarik dalam program amal yang digelar di ICE BSD, Tangerang Selatan, baru-baru ini.
Selama berbulan-bulan, para pelajar mengumpulkan, menyusun, dan merangkai potongan kain dari rumah masing-masing hingga membentuk peta kepulauan Indonesia. Proses tersebut menunjukkan bagaimana material yang sebelumnya dianggap sebagai sisa dapat diolah kembali menjadi produk kreatif dengan nilai estetika dan sosial.
Proyek Weaving Nusantara digagas dan dijalankan secara mandiri oleh 17 pelajar dari ACS Jakarta, Jakarta Intercultural School (JIS), British School Jakarta (BSJ), Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka.
Meski berasal dari sekolah dengan lingkungan dan kalender akademik yang berbeda, mereka berkolaborasi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan acara.
Tim tersebut terdiri atas Howard Alvias, Annabelle Christian, dan Edgar Panjaitan di bidang Project Management; Kenzo Sugiarso dan Jacob Roddick Basuki sebagai Finance; Emelyn Nicole, Dominique Patte, dan Ghissa Mallarangeng di bidang Creative; Kenneth Sandjaja, Anthony Boenjamin, dan Fidel Tani pada Creative Mapping; Kiara Handoko, Krishay Amarnani, dan Kiara Jiaw di bidang Communications; serta James Sumali, Jacob Dinata, dan Aiden Seng yang menangani Operational.
Acara tersebut menjadi bagian dari Style Avenue, bazaar mode dan gaya hidup yang diselenggarakan KKB BNI dalam rangkaian BNI wondrX 2026. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-80 BNI, sekaligus menjadi momentum penggalangan dana bagi Yayasan Wisma Cheshire Indonesia, lembaga yang mendampingi penyandang disabilitas.


Dari kain bisa menjadi karya bernilai
Bagi para pelajar, kain perca tidak hanya dipandang sebagai bahan sisa, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan mengenai keberlanjutan, keberagaman, dan inklusivitas.
"Potongan-potongan ini awalnya hanyalah serpihan cerita yang dibuang. Sendirian, mereka kehilangan maknanya. Namun saat diletakkan berdampingan, mereka menemukan rumah baru," ujar Project Director Weaving Nusantara, Howard Alvias, dalam keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.
Menurut Howard, filosofi tersebut menjadi dasar keseluruhan proyek. Kain yang semula dianggap tidak lagi memiliki nilai dimanfaatkan kembali menjadi karya seni yang memiliki fungsi dan makna baru.
"Ini bukan hanya tentang membuat sebuah karya seni. Ini tentang bagaimana kita melihat kembali sesuatu yang dianggap tidak berguna dan memberinya kehidupan kedua," kata dia.
Gagasan keberlanjutan tersebut kemudian dipadukan dengan pesan inklusivitas. Proses menyatukan potongan kain dari berbagai sumber dinilai memiliki kemiripan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang terdiri atas beragam latar belakang.
"Sama seperti kain-kain ini, ruangan ini pun bagaikan sebuah karya perca. Kita semua berasal dari potongan yang tak serasi, namun justru ketidaksempurnaan itulah yang merajut kita menjadi satu kesatuan yang utuh," tambah Howard.
Konsep tersebut diwujudkan melalui kolaborasi yang melibatkan pelajar lintas sekolah, ibu-ibu KKB BNI, relawan, serta para pengrajin penyandang disabilitas. Setiap pihak memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Puncaknya adalah peta Indonesia berukuran 2,5 meter × 1,5 meter yang seluruhnya dibuat dari kain perca hasil sumbangan. Proses pengerjaannya dilakukan selama berbulan-bulan oleh anggota Weaving Nusantara.
Peta tersebut menjadi representasi visual dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. Potongan-potongan kain yang berbeda dirangkai menjadi satu karya utuh, sekaligus menggambarkan bagaimana material sisa dapat memperoleh nilai baru melalui kreativitas dan kolaborasi.

Kain sisa dibawa ke runway
Peta kain perca tidak hanya menjadi instalasi utama, tetapi juga menjadi latar belakang peragaan busana bertajuk Benang Kedua.
Mengangkat gagasan memberikan kehidupan kedua kepada material sisa, fashion show tersebut menghadirkan 10 gaun yang dirancang secara khusus oleh tujuh desainer muda.
Melalui peragaan busana tersebut, para pelajar ingin menunjukkan konsep keberlanjutan dapat diwujudkan melalui pemanfaatan material yang tersedia di sekitar. Material sederhana dapat menjadi bagian dari karya kreatif ketika diolah dengan ide dan kepedulian.
Selain fashion show, Weaving Nusantara juga menghadirkan tiga kegiatan kreatif yang dirancang untuk melibatkan peserta dari berbagai usia dan kemampuan.
Pertama, lomba menghias tote bag yang diperuntukkan bagi siswa tuli dan dengar-kurang. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Wisma Cheshire Indonesia dan didampingi juru bahasa isyarat sepanjang rangkaian acara.
Kedua, lomba mozaik kain di atas kanvas untuk siswa sekolah dasar berusia 7–12 tahun. Peserta mengerjakan karya dalam kelompok kecil dengan pendamping.
Ketiga, Make-A-Vest, kompetisi bagi pelajar berusia 13–18 tahun. Dalam kompetisi tersebut, 17 peserta menerima blind box berisi bahan-bahan yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Mereka kemudian ditantang membuat rompi layak pakai dengan tema Indonesia.
Keterlibatan Yayasan Wisma Cheshire Indonesia juga tidak hanya sebagai penerima manfaat. Para perajin dari Cheshire turut memasok tote bag untuk perlombaan, menjadi juri, dan memperagakan keterampilan menjahit secara langsung di tengah kegiatan anak-anak.
Di balik kegiatan yang berlangsung selama beberapa jam tersebut terdapat proses panjang yang dikerjakan secara mandiri oleh para pelajar. Mereka tidak hanya terlibat dalam pembuatan karya, tetapi juga mengembangkan konsep acara, membangun komunikasi dengan berbagai pihak, melakukan promosi dan perekrutan peserta, menyiapkan kegiatan, mengelola kebutuhan operasional, hingga mengatur aspek pendanaan.
Perbedaan sekolah dan latar belakang tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bekerja sebagai satu tim. Keberagaman tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman yang ingin mereka bawa melalui Weaving Nusantara.
Proyek tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan kreatif yang digerakkan pelajar dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai kepemimpinan, kolaborasi, manajemen proyek, keberlanjutan lingkungan, kewirausahaan sosial, dan inklusi disabilitas.
Weaving Nusantara merupakan proyek seni amal yang dijalankan oleh 17 pelajar tingkat SMP dan SMA dari lima sekolah di Jakarta, yakni ACS Jakarta, JIS, BSJ, Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka.
Melalui proyek tersebut, para pelajar tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menunjukkan bagaimana material yang tersisa dapat dimanfaatkan kembali menjadi karya kreatif sekaligus membawa nilai sosial. Upaya tersebut mempertemukan isu pemanfaatan kembali limbah tekstil, kreativitas, keberlanjutan, dan inklusi dalam satu kegiatan.