Wall Street Boncos di Tengah Melemahnya Pasar Tenaga Kerja AS

Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Wall Street Boncos di Tengah Melemahnya Pasar Tenaga Kerja AS

Husen Miftahudin • 6 February 2026 08:20

New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), karena investor mencerna laporan pendapatan dari perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dan serangkaian laporan yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja di AS.
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 6 Februari 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,2 persen menjadi 48.908,72. Indeks S&P 500 merosot 1,23 persen menjadi 6.798,4. Indeks Nasdaq Composite turun 1,59 persen menjadi 22.540,59.
 
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor material dan barang konsumsi non-esensial memimpin penurunan dengan masing-masing turun 2,75 persen dan 2,59 persen. Sementara itu, sektor barang konsumsi esensial dan utilitas memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 0,25 persen dan 0,11 persen.
 

Baca juga: Nasdaq dan S&P 500 Kompak Turun, Dow Jones Naik Tipis
 

Laporan keuangan saham teknologi jadi sorotan

 
Sektor teknologi tetap menjadi fokus utama volatilitas pasar setelah perusahaan induk Google, Alphabet, melaporkan hasil kuartalan pada Rabu malam yang melampaui ekspektasi pendapatan.
 
Perhatian investor kini beralih ke Amazon, yang dijadwalkan akan merilis hasil kuartal keempatnya setelah penutupan pasar saham pada hari Kamis.
 
Namun, pasar secara keseluruhan tetap berhati-hati karena para pesaing di 'Magnificent Seven' terus mengungkapkan biaya signifikan yang terkait dengan perlombaan senjata kecerdasan buatan yang sedang berlangsung.


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Pasar tenaga kerja AS melemah

 
Di sisi lain, data ekonomi yang dirilis pada Kamis semakin meredam sentimen pasar dengan memberikan bukti baru tentang melemahnya pasar tenaga kerja.
 
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran awal mingguan di AS meningkat menjadi 231 ribu, melebihi perkiraan para ekonom.
 
Bersamaan dengan itu, Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja mengungkapkan posisi yang belum terisi turun menjadi 6,5 juta pada Desember, level terendah yang tercatat sejak September 2020.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)