Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah). Foto: Dok. Kemenhut.
Puncak Karhutla September, Kemenhut Maksimalkan Modifikasi Cuaca dan Satgas
Fachri Audhia Hafiez • 31 August 2026 19:27
Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bakal memaksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pengeboman air (water bombing), serta penguatan satuan tugas (satgas) darat untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang September 2026. Periode ini dinilai menjadi fase krusial dalam penanganan karhutla di berbagai daerah.
“Karena September ini kita di puncak. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan, tapi kalau tadi kita dengarkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lagi, saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi sebulan ini adalah battleground kita,” kata Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 31 Agustus 2026.
Raja Juli menjelaskan, penyemaian awan melalui OMC menjadi opsi utama yang harus dimaksimalkan mumpung potensi dan celah cuaca (window) masih tersedia. Langkah ini terbukti efektif dalam memicu hujan buatan di wilayah terdampak.
“Karena bagaimana pun, yang paling efektif ini memang OMC, dan karena kita masih punya window untuk melakukan OMC,” ujar Raja Juli.
Selain upaya dari udara, Kemenhut menaruh perhatian besar pada penyiapan satgas darat. Penempatan pasukan di lapangan bakal diatur secara presisi pada titik-titik yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi dengan sistem rotasi berkala guna menjaga kondisi fisik para personel.
“Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur semaksimal mungkin di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian,” tutur Raja Juli.
.jpg)
Ilustrasi penanganan karhutla. Foto: Dok. Istimewa.
Sebagai langkah antisipasi kelelahan satgas utama di lapangan, Kemenhut juga berupaya menambah armada personel tambahan melalui mekanisme Bawah Kendali Operasi (BKO).
“Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah,” kata Raja Juli.
Raja Juli menambahkan, keberadaan personel BKO ini sangat penting untuk menunjang teknis operasional di lapangan. “Personel yang tidak memiliki keahlian khusus pemadaman tetap dapat membantu pekerjaan pendukung,” kata Raja Juli.