Aktivitas Gunung Semeru terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jumat, 28 Agustus 2026. ANTARA/HO-PVMBG
Gunung Semeru 21 Kali Erupsi dalam 6 Jam, Status Masih Siaga
Silvana Febiari • 28 August 2026 08:14
Lumajang: Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat mengalami 21 kali gempa letusan/erupsi. Aktivitas tersebut terjadi selama enam jam terakhir, pada pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
"Dalam pengamatan kegempaan tercatat 21 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 67-120 detik," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, dilansir dari Antara, Jumat, 28 Agustus 2026.
Gunung Semeru juga mengalami dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2-12 mm dan durasi 56-88 detik. Selain itu, tercatat dua kali gempa hembusan dengan amplitudo 6-8 mm dan durasi 52-77 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5-17 mm, S-P 21-46 detik, dan durasi 68-113 detik.
Baca Juga :
"Secara visual gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara dan selatan," tuturnya.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga). Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," ujarnya.

Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan capai 800 meter di atas puncak pada Jumat pagi, 21 Agustus 2026. ANTARA/HO-PVMBG
Masyarakat tidak boleh beraktivitas dalam radius lima km dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ucap Yadi.
Sementara itu, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memberlakukan penutupan total jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026 akibat kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang. Seluruh pendaki yang berada di kawasan tersebut telah turun pada Kamis, 27 Agustus 2026.