Kementerian ESDM Catat Penyaluran B50 Sudah 80%

Ilustrasi biodiesel B50. Foto: Dokumen Kementerian ESDM

Kementerian ESDM Catat Penyaluran B50 Sudah 80%

Eko Nordiansyah • 1 September 2026 11:57

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) biodiesel 50 persen (B50) berada di kisaran 75-80 persen per 31 Agustus 2026.

“Posisinya itu antara 75-80 persen kalau total penyaluran, ya. Tetapi (SPBU) Pertamina sudah 90 persen,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika ditemui setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 1 September 2026.

Eniya menyampaikan Kementerian ESDM tetap melakukan pengawasan dalam distribusi B50 tersebut. Pemerintah pun, kata dia, berkomitmen untuk memperbanyak monitoring dan evaluasi (monev), sebab program tersebut ingin dieksekusi secara cermat.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Penyaluran 100% di Oktober 2026

Kementerian ESDM menargetkan penyaluran B50 di seluruh SPBU dapat terealisasi 100 persen pada 1 Oktober 2026.

“Jadi, kami lihat nanti sebulan lagi. Terus kami tetap melakukan pengawasan,” ujar Eniya.

Indonesia resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 per Juli 2026 sebagai upaya penurunan emisi karbon dan mewujudkan ketahanan energi nasional.

Berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM, implementasi B50 pada 2026 diperkirakan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 ekuivalen. Jumlah itu meningkat dari capaian penghematan devisa dan penurunan emisi program B40 pada 2025.

Dengan peluncuran mandatori B50, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar solar, melanjutkan rangkaian program biodiesel B30, B35, dan B40 yang telah berjalan sejak lebih dari satu dekade terakhir.

Selain menurunkan emisi karbon, mandatori B50 juga diproyeksikan menghemat devisa negara hingga sekitar Rp170 triliun pada 2026, meningkatkan nilai tambah CPO serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

(Eko Nordiansyah)