Karim dan Edoh, pasutri berjualan bubur segera menunaikan ibadah haji. (MI/Kristiadi)
24 Tahun Menabung dari Jualan Cilok dan Bubur, Pasutri Ini Akhirnya Naik Haji
Media Indonesia • 22 April 2026 13:05
Tasikmalaya: Karim, 55, dan Edoh, 52, merupakan pasangan suami istri (pasutri) warga Kampung Cimerak, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, dipanggil untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Pasangan tersebut sangat bersyukur bisa menunaikan ibadah haji setelah 24 tahun menyisihkan uang dari berjualan cilok dan bubur ayam keliling.
Pasutri itu masuk dalam kelompok terbang (Kloter) 04 KJT, dan dijadwalkan berangkan pada Kamis, 23 April 2026, Semula keduanya diprediksi berangkat pada 2028. Namun tanpa disangka, kabar baik datang, Karim dan Edoh bisa berangkat haji lebih cepat.
"Kami merasa bersyukur terpanggil untuk menunaikan ibadah haji dan ini merupakan nikmat bagi keluarga meski awalnya hanya memprediksi tahun 2028 bisa berangkat ke Tanah Suci Makkah. Karena, sejak awal itu memiliki niat dalam hati ingin menunaikan ibadah haji bersama suami meski kondisi saat itu sebagai pedagang Cilok keliling," ujar Edoh, sambil meneteskan air mata, Rabu, 22 April 2026.

Karim dan Edoh, pasutri berjualan bubur segera menunaikan ibadah haji. (MI/Kristiadi)
Menurut Edoh, selain berjualan cilok, dia pun bekerja menjadi pembantu rumah tangga dari rumah ke rumah. Penghasilannya itu disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya menyewa bilik, dan ditabung demi bisa menjalankan ibadah haji.
"Kami sisihkan sejumlah uang hasil jualan cilok nilainya Rp 50 ribu, Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu setiap hari dan tambahannya sejak itu kami hanya mampu menjadi pembantu rumah tangga (PRT) dari rumah ke rumah. Penghasilan itu bertambah, hanya diperuntukkan untuk beli beras, bayar kontrakkan hingga kami berdua tetap mesyukurinya," jelas dia.
Hingga pada 2012, Edoh dan suaminya berhasil membeli rumah sendiri dari hasil berjualan cilok. Kemudian pada 2013, Edoh dan suami beralih menjadi pedagang bubur ayam, yang diberi nama Bubur Ayam Spesial Pak Karim. Pasutri itu berjualan di depan rumah dan berkeliling.
"Ini alhamdulilah telah dikarunia seorang putri dan usahanya terus lebih semangat sambil sisihkan uang hasil berjualan sebesar Rp100 ribu, Rp150 ribu setiap hari berjualan bubur ayam," jelas dia.
"Kami menyisihkan uang hasil berjualan bubur ayam, keliling dua kali dalam sehari, mulai pukul 05.00-10.00 WIB dan kembali berjualan pukul 12.00-20.00 WIB berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer dari rumah dan menuju jalan baru penghubung antar Kota Tasikmalaya menuju Sindangkasih, Ciamis. Kami menyiapkan ruko kecil yang disajikan untuk jualan bubur bagi pelanggan semula Rp7.000 naik Rp10.000 satu mangkuk," tutur Karim.
Usaha yang dilakukan pasutri itu tidak pernah berhenti meski pelanggan semakin banyak. Usaha berdagang bubur tumbuh, semakin meningkat sehingga hasilnya bisa disisihkan untuk kebutuhan anak, sehari-hari, bahkan membayar pelunasan ibadah haji.
Edoh tak menyangka perjalanan hidupnya, yang semula tinggal di bilik bersama Karim -suaminya-. Kini sudah memilik rumah sendir, bahkan bisa menunaikan ibadah haji.
"Kami awalnya tak percaya akan berangkat tahun 2026 meski prediksinya 2028. Setelah dapat kabar dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Mathlaul Khaer Cintapada, Kecamatan Cibeureum, kemudian melunasi semua biaya haji sebesar Rp 62 juta," pungkasnya. (MI/Kristiadi)