Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Lindsey Afsari Puteri. Istimewa
KSP-KONI Perkuat Ekosistem Pembinaan Talenta Olahraga dari Sekolah
Whisnu Mardiansyah • 25 September 2026 23:06
Jakarta: Kantor Staf Presiden (KSP) bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mendorong penguatan ekosistem pembinaan talenta olahraga sejak tingkat sekolah. Upaya tersebut dibahas dalam talkshow bertajuk Mimpi Besar, Sekolah Kelar: No Drop Out, Just Level Up! di SMAN 1 Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Tenaga Ahli Utama KSP Lindsey Afsari Puteri menilai anak-anak yang memiliki bakat dan cita-cita di bidang olahraga perlu mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensinya tanpa mengorbankan pendidikan.
Menurut dia, talenta olahraga yang teridentifikasi di sekolah perlu diarahkan ke jalur pembinaan yang jelas. Dengan demikian, pelajar dapat menjalani proses pembinaan, mengikuti kompetisi, mengejar prestasi, sekaligus menyelesaikan pendidikan.
“Tugas pemerintah adalah membuka jalan bagi anak-anak untuk meraih mimpinya. Kalau hari ini ada talenta yang ditemukan di sekolah, jangan berhenti pada penemuan," jelas Lindsey Afsari pada Jumat, 25 September 2026.
Lindsey mengatakan proses pembinaan perlu dilanjutkan setelah talenta ditemukan. Pelajar berbakat harus memiliki akses untuk mengikuti pembinaan dan kompetisi tanpa meninggalkan pendidikan serta persiapan untuk masa depan.
Ia mengaitkan upaya tersebut dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang tercantum dalam Asta Cita ke-4 Presiden RI. Arah pembangunan tersebut mencakup penguatan SDM, pendidikan, sains dan teknologi, kesehatan, serta prestasi olahraga.
Pemerintah juga memiliki sejumlah regulasi sebagai kerangka pengembangan olahraga dan kepemudaan. Di antaranya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), serta Perpres Nomor 43 Tahun 2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan.
Dalam kerangka tersebut, KSP mendorong keterhubungan antarpemangku kepentingan. Rangkaian ekosistem dimulai dari sekolah sebagai tempat penjaringan talenta, kemudian pembinaan oleh KONI dan cabang olahraga, dukungan kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, hingga akses terhadap kompetisi dan pendidikan lanjutan.
“KONI memiliki peran penting dalam mendeteksi dan membina bakat olahraga. Pemerintah kemudian harus memastikan ekosistemnya tersambung. Kalau ada hambatan lintas sektor, harus kita carikan jalan keluarnya. Talenta yang ditemukan di sekolah harus punya jalan untuk naik level,” jelas Lindsey.
KSP juga mendorong perluasan perspektif dalam penjaringan talenta olahraga. E-sport menjadi salah satu bidang yang turut membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi. Pengembangan olahraga berbasis teknologi tetap perlu diiringi penerapan pola hidup sehat, kedisiplinan, pengaturan waktu, latihan, serta keberlanjutan pendidikan.
“Mau menjadi atlet olahraga konvensional atau e-sport, prinsipnya sama : disiplin, latihan, kesehatan, kemampuan mengatur waktu dan pendidikan harus berjalan bersama. Bermimpi besar boleh, tetapi sekolah juga harus kelar,” tegas Lindsey.
Penguatan ekosistem pembinaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kementerian Pemuda dan Olahraga berperan dalam strategi olahraga prestasi, sedangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendukung keterhubungan olahraga dengan pendidikan.
KONI menjadi salah satu unsur dalam penjaringan dan pembinaan talenta olahraga. Di tingkat daerah, pemerintah daerah dan Dinas Pemuda dan Olahraga turut berperan dalam penyediaan fasilitas serta penyelenggaraan kompetisi.
Akses pendidikan tinggi juga menjadi bagian dari keberlanjutan karier atlet. Program beasiswa bagi atlet dapat menjadi salah satu jalur untuk menjaga kesempatan pendidikan setelah pelajar mengembangkan prestasi olahraga.
Ketua Bidang Media dan Humas KONI Pusat M Tirto Prima Putra yang mewakili Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menekankan perlunya memperkuat hubungan antara KONI, sekolah, dan lingkungan pembinaan olahraga.
Kolaborasi tersebut dinilai diperlukan agar talenta olahraga dapat ditemukan, dikembangkan, dan diarahkan sesuai potensi masing-masing. Pesan serupa disampaikan atlet e-sport Shogun melalui pengalamannya kepada para pelajar mengenai pentingnya komitmen dan kemampuan membagi waktu antara pendidikan, latihan, serta kompetisi.
Wakil Ketua Umum II KONI DKI Jakarta Defrizal Siregar turut menyoroti pentingnya mempersiapkan masa depan atlet sejak usia dini. Setiap cabang olahraga memiliki karakteristik dan periode puncak prestasi yang berbeda sehingga pembinaan perlu disiapkan sejak awal.
Melalui kampanye Mimpi Besar, Sekolah Kelar, KSP dan KONI mengangkat pesan pentingnya menjaga keseimbangan antara pendidikan dan prestasi olahraga.
Anak-anak Indonesia didorong berani mengejar cita-cita sebagai atlet, termasuk melalui e-sport dan berbagai cabang olahraga lainnya, tanpa harus meninggalkan pendidikan. Dari sekolah, talenta ditemukan. Selanjutnya, ekosistem pembinaan menjadi jalur bagi talenta tersebut untuk terus berkembang dan meningkatkan prestasinya.