Ilustrasi hujan. (Medcom.id)
Tujuh Kabupaten di Jateng Siaga Curah Hujan Tinggi
Lukman Diah Sari • 21 February 2026 09:56
Cilacap: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan tujuh kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) berstatus siaga curah hujan tinggi pada Dasarian III Februari 2026, menyusul prakiraan akumulasi hujan hingga 300 milimeter per dasarian.
“Status siaga menandakan potensi hujan menengah hingga lebat terjadi berulang dalam satu dasarian dan berisiko memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir maupun tanah longsor, sehingga perlu peningkatan kesiapsiagaan,” kata Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Sabtu, 21 Februari 2026, melansir Antara.
Ia mengatakan status siaga curah hujan tinggi tersebut tercantum dalam peringatan dini cuaca dan iklim Dasarian III Februari 2026, yang dikeluarkan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II. Menurut dia, tujuh kabupaten yang berstatus siaga curah hujan tinggi meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Purbalingga, dan Banjarnegara, karena berpotensi mengalami curah hujan berkisar 200-300 milimeter per dasarian.

Peta peringatan dini curah hujan tinggi di Provinsi Jawa Tengah pada Dasarian IiI Februari 2026. ANTARA/HO-BMKG
Sementara itu, status waspada curah hujan tinggi (150-200 milimeter per dasarian) mencakup wilayah yang lebih luas, meliputi Kota Semarang, Surakarta, Salatiga, Tegal, dan Pekalongan, serta Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Temanggung, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Semarang, Kendal, Demak, Kudus, dan Jepara.
“Secara umum, seluruh zona musim di wilayah Jawa Tengah masih berada pada periode musim hujan, sehingga peluang kejadian hujan lebat masih cukup tinggi, terutama di daerah perbukitan dan pegunungan,” ungkap dia.
Selain berbasis akumulasi curah hujan dasarian, kata dia, prakiraan cuaca 10 harian juga menunjukkan potensi hujan lebat di banyak kabupaten/kota pada periode 21-28 Februari, dengan sebaran yang dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Ia mengharapkan informasi peringatan dini dasarian dapat dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai dasar penguatan mitigasi, termasuk kesiapan infrastruktur pengendali banjir, pemantauan daerah rawan longsor, dan sistem peringatan dini di tingkat lokal.
“Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat terjadi hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama serta rutin memantau pembaruan informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat,” kata Teguh.