Gunung Semeru Masih Bergejolak, 35 Gempa Erupsi dalam 6 Jam

Aktivitas Gunung Semeru yang terpantau dari Pos Pengamatan di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (15/1/2026). ANTARA/HO-PVMBG

Gunung Semeru Masih Bergejolak, 35 Gempa Erupsi dalam 6 Jam

Lukman Diah Sari • 15 January 2026 12:59

Lumajang: Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi mencatat awan panas guguran kembali terjadi berulang dengan jarak luncur mencapai 5.000 meter dari puncak menuju sektor tenggara arah Besuk Kobokan. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, hasil pemantauan visual dan instrumental pada Rabu, 14 Januari 2026, menunjukkan sedikitnya dua kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur serupa.

"Hal itu ditandai oleh kejadian awan panas guguran yang berulang, terutama mengarah ke sektor tenggara dengan jarak luncur sejauh 5.000 meter dari puncak ke arah Besuk Kobokan," kata Lana dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang, Kamis, 15 Januari 2026, melansir Antara.

Aktivitas Gunung Semeru yang terpantau dari Pos Pengamatan di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (15/1/2026). ANTARA/HO-PVMBG


Selama periode 7–14 Januari 2026, aktivitas awan panas juga teramati beberapa kali dengan karakteristik yang sama. Aktivitas vulkanis itu disertai guguran material vulkanik dari puncak Semeru.

"Selain itu selama periode 7–14 Januari 2026 awan panas guguran juga beberapa kali teramati dengan jarak luncur serupa, disertai aktivitas guguran material," jelas dia.

Berdasarkan rekaman seismik, aktivitas Gunung Semeru masih didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan, dan tremor harmonik.

"Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya supply dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan hembusan," jelas Lana.

Ia menambahkan, parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) menunjukkan fluktuasi dengan simpangan cukup besar. Kondisi ini menandakan sistem vulkanik berada pada fase relaksasi, namun tetap rentan mengalami peningkatan tekanan.

"Sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi, akan tetapi masih sangat rentan terhadap peningkatan tekanan," ujar dia.

Sementara itu, pemantauan deformasi tubuh gunung relatif stabil dan belum menunjukkan adanya akumulasi tekanan baru di bawah permukaan.

Rekomendasi dan Larangan Aktivitas

Badan Geologi menegaskan status Gunung Semeru tetap Level III (Siaga) dengan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat. Yakni masyarakat, pengunjung, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari Kawah Jonggring Seloko.

Selain itu, masyarakat diminta tidak memasuki sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak, yang dapat meluas hingga 17 kilometer di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Warga juga diimbau mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, serta lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.

"Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat," katanya.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru pada Kamis pukul 06.00–12.00 WIB, tercatat aktivitas kegempaan masih tinggi dengan 35 kali gempa letusan/erupsi, satu kali gempa guguran, satu kali gempa embusan, dan satu kali gempa vulkanik dalam.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)