Ilustrasi makan bergizi gratis (MBG). Foto: Metrotvnews.com/Siti Yona Hukmana.
MBG Intervensi Strategis untuk Memutus Rantai Masalah Gizi Kelompok Rentan
Achmad Zulfikar Fazli • 16 May 2026 14:01
Jakarta: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya membagikan makanan di sekolah, melainkan intervensi strategis untuk memutus rantai masalah gizi pada kelompok rentan. Sebab, selama ini, banyak anak sekolah yang berangkat dengan perut kosong lantaran keterbatasan ekonomi di rumah.
"Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan," ujar perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Dewan Pimpinan Cabang Kota Surakarta, Dewi Marfuah, dalam keterangannya, Sabtu, 16 Mei 2026.
Berdasarkan pengalamannya saat pengabdian di sekolah, jumlah siswa yang tidak sarapan seringkali lebih banyak dibanding yang sarapan. Pengalaman ini juga diperkuat data Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada awal Februari 2026, 81 persen keluarga rentan menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program MBG, terutama di kota-kota kecil, lantaran MBG dinilai dapat memberikan kepastian nutrisi bagi anak sekolah.
Menurut Dewi, MBG memang dirancang untuk memenuhi hampir sepertiga kebutuhan nutrisi penerimanya. MBG diharapkan bisa menambah energi dan konsentrasi anak dalam belajar.
“Program MBG dirancang untuk memenuhi seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian anak. Dengan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, hingga buah, siswa diharapkan memiliki energi cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” ujar Dosen Prodi S1 Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta (UMPKU) itu.
Baca Juga :
Polri Siapkan 166 SPPG untuk diresmikan Presiden
“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi," terang Adriana.
Fokus 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Meski fokus utama terlihat pada anak sekolah, Dewi menjelaskan keberlanjutan program ini melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) juga menyasar kelompok rentan lainnya. Yakni, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui."Kita tidak ingin melihat lagi ada ibu hamil yang kurus karena nutrisinya habis terserap janin tanpa ada asupan pengganti yang memadai. Begitu pula dengan balita; pemberian makanan bergizi yang rutin, bukan sekadar sebulan sekali saat ke Posyandu, adalah kunci utama dalam menekan angka stunting di Indonesia,” ujar Dewi.
_%20Foto-%20Metrotvnews_com_Hendrik(3).jpg)
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Metrotvnews.com/Hendrik.
Namun, masih ada masyarakat yang ragu dengan program MBG lantaran masalah keamanan pangan yang terus diperbaiki. Menjawab kekhawatiran masyarakat soal keamanan pangan, Dewi menjelaskan setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab penuh, dan standar operasional prosedur (SOP) kini sangat ketat.
“Ada rentang waktu ketat antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi untuk mencegah makanan basi akibat pengemasan saat panas. Kemudian sebelum dibagikan ke siswa, guru bertindak sebagai tester untuk memastikan rasa dan kualitas makanan aman dikonsumsi,” terang dia.
Dewi juga mendorong peran aktif orang tua dan guru untuk memberikan masukan kepada SPPG jika menemukan menu yang kurang sesuai atau daya terima anak terhadap menu yang dibagikan rendah.
"Ahli gizi di lapangan bertugas melakukan edukasi dan memantau food waste (sisa makanan). Jika sisa makanan banyak, artinya ada yang harus dievaluasi dari daya terima menu tersebut," jelas Dewi.
Dewi mengajak seluruh lapisan masyarakat, guru, dan orang tua untuk ikut mengawasi dan memberikan edukasi. Dengan asupan yang aman, sehat, dan bergizi, artinya sedang membangun fondasi bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kompetitif di masa depan.