Ilustrasi Prancis vs Swedia. Foto: X/@fquipedefrance
Preview Prancis vs Swedia: Duel Kontras Skuad Mewah vs Disiplin
Gabriella Thesa Widiari • 30 June 2026 14:55
Jakarta: Tim nasional Prancis akan menghadapi Swedia dalam laga 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Rabu, 1 Juli 2026. Pertandingan ini menjadi panggung adu taktik dua tim dengan gaya permainan yang sangat kontras.
Dilansir dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026, Prancis memiliki gaya permainan dengan penopang utama kekuatan fisik dan kecepatan transisi. Tim besutan Didier Deschamps itu juga mampu menyerang sama baiknya dari sektor sayap maupun lini tengah yang eksplosif, ditopang kualitas individu yang relatif merata.
Kedalaman skuad yang dimiliki Prancis membuat Les Bleus diakui sebagai salah satu tim paling komplet di Piala Dunia 2026. Sebab setiap saat bisa menciptakan momen untuk mengubah jalannya pertandingan.
Senegal, Irak, dan Norwegia sudah menjadi korban kekuatan Prancis, yang menyapu bersih kemenangan atas ketiga lawannya itu demi lolos sebagai juara Grup I dengan torehan 10 gol dari tiga pertandingan.
Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele jelas menjadi dua nama yang paling mentereng di Prancis saat ini. Keduanya sama-sama sudah mengoleksi empat gol dan memimpin lini serang Pasukan Ayam Jantan, dibantu nama-nama lain seperti Michael Olise, Desire Doue, atau Bradley Barcola.
Mbappe memiliki kecepatan dan ketepatan penyelesaian, Dembele punya kemampuan mengolah bola nan kreatif disertai tembakan terukur. Sedangkan Olise piawai dalam melewati hadangan lawan dilengkapi visi bermain sarat radar akurat membaca pergerakan rekan-rekannya.
Tak hanya mewah di lini depan, Prancis memiliki banyak opsi di lini tengah mereka yang dihuni Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, yang dikenal memiliki kekuatan dalam duel fisik sekaligus fleksibel.
Lini belakang Prancis juga relatif solid dengan kehadiran William Saliba, Ibrahima Konate, hingga Dayot Upamecano sebagai opsi palang pintu. Sementara itu, kakak beradik Theo dan Lucas Hernandez kerap menjadi pilihan andalan di sektor bek sayap.
Singkatnya, Prancis adalah tim dengan skuad mewah dan Deschamps punya "masalah yang menyenangkan" untuk meramu sebelas pertama terbaik menghadapi Swedia. Tantangan terbesarnya adalah menjaga fokus dan mental agar mereka tidak meremehkan lawannya yang lolos hanya sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik fase penyisihan grup.

Ilustrasi Prancis vs Swedia. Foto: X/@fquipedefrance.
Di kubu sebelah, Swedia mengoleksi empat poin di Grup F setelah tim asuhan Graham Potter itu mengalahkan Tunisia 5-1, dipecundangi Belanda 1-5, dan menahan imbang Jepang 1-1.
Disiplin taktik, kekuatan fisik, dan kerapihan permainan kolektif adalah sejumlah aspek keunggulan Swedia. Hal itu seringkali membuat mereka menjadi lawan yang sulit dikalahkan meski tidak selalu mendominasi penguasaan bola.
Kekuatan fisik para pemain Swedia membuat mereka kerap unggul dalam duel-duel udara maupun perebutan bola yang membutuhkan kontak fisik. Postur pemain yang cenderung tinggi membuat mereka sangat berbahaya dalam situasi bola mati, baik saat bertahan maupun menyerang.
Dalam hal transisi, Swedia mengandalkan serangan balik cepat. Mereka tidak banyak membuang waktu saat merebut bola, melainkan langsung mengarah ke depan untuk memanfaatkan ruang kosong lawan.
Tugas Potter kini sederhana yaitu menemukan kepaduan dalam memanfaatkan dua penyerang terbaik Swedia, Alexander Isak dan Viktor Gyokeres. Duet ini sukses di laga pertama, tetapi itu hanya melawan Tunisia. Mereka gagal di laga kedua menghadapi Belanda, dan memicu relatif tanda tanya ketika bertemu Jepang.
Potter harus bisa memanfaatkan kecepatan dan ketajaman Isak serta kekuatan fisik dan penyelesaian akhir apik Gyokeres. Salah satu opsinya adalah mengeluarkan kemampuan terbaik talenta muda Yasine Ayari yang sempat mencuri perhatian publik lewat dua golnya ke gawang Tunisia di pertandingan pertama.
Opsi lainnya adalah membukakan ruang bagi Anthony Elanga, yang di dua laga terakhir mencetak gol, tetapi membutuhkan dukungan lebih agar bisa bergerak bebas di sektor sayap Swedia.
Sebelum itu semua, tugas utama Swedia adalah meredam kebintangan para pemain Prancis. Bek gaek sekaligus kapten Victor Lindelof harus bisa membimbing para juniornya demi menuntaskan tugas mereka dengan baik menghadapi Prancis.
Laga 32 besar kali ini merupakan pertemuan pertama Prancis dan Swedia di level Piala Dunia. Laga ini berpotensi menjadi pertandingan bertempo tinggi. Prancis kemungkinan akan mendominasi, tetapi apabila Swedia mampu meredam ancaman yang ada, bukan tidak mungkin mereka justru mencuri kejutan.
Prancis jelas harus waspada. Jika tidak, mereka akan mengalami nasib serupa Jerman dan Belanda yang tumbang di tangan lawan yang tak lebih diunggulkan.
Perkiraan susunan pemain:
Prancis: Mike Maignan; Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba, Theo HernAdez; Aurelien Tchouameni, Adrien Rabiot; Michael Olise, Ousmane Dembele, Desire Doue; Kylian Mbappe
Swedia: Jacob Zetterstrom; Gustaf Lagerbielke, Victor Lindelof, Gabriel Gudmundsson; Oscar Bernhardsson, Lucas Bergvall, Yasin Ayari, Samuel Dahl; Anthony Elanga, Viktor Gyokeres, Alexander Isak