Markas PBB di New York, Amerika Serikat. Foto: Anadolu
PBB: Perang AS-Iran Pangkas Ekonomi Negara Arab Rp2.661 Triliun dalam Sebulan
Muhammad Reyhansyah • 18 September 2026 14:53
New York: Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyebabkan kerugian ekonomi hampir USD150 miliar atau senilai Rp2.661 triliun.
Jumlah tersebut setara dengan 4 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) regional kawasan tersebut.
Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA), Rania Al-Mashat, menyampaikan perkiraan tersebut dalam pertemuan Arria-formula Dewan Keamanan PBB yang digelar atas inisiatif Bahrain, Kamis, 17 September 2026.
"Mari saya sampaikan angka yang mencolok di sini. Menurut perkiraan ESCWA, biaya konflik itu sendiri selama bulan pertama krisis mencapai USD150 miliar, setara dengan empat persen dari PDB regional," kata Al-Mashat, dikutip dari TRT World.
ESCWA terdiri dari 21 negara anggota Arab yang mencakup wilayah Afrika Utara hingga Timur Tengah.
Al-Mashat mengatakan ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga mengganggu pembangunan, pasokan kebutuhan pokok, stabilitas ekonomi, usaha kecil, dan perekonomian global.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan bertajuk "Safe Seas, Shared Security: Protecting Freedom of Navigation in a Changing Security Environment".
"Dari Teluk melalui Selat Hormuz menuju Laut Merah lewat Selat Bab al-Mandeb, laut, selat, dan pelabuhan terhubung dalam satu sistem yang saling bergantung yang membawa energi, pangan, dan perdagangan ke seluruh dunia. Jika satu mata rantai terganggu, seluruh rantai akan goyah," ujarnya.
Menurut Al-Mashat, Selat Hormuz membawa sekitar 25 persen perdagangan minyak global melalui jalur laut dan 19 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.
Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) juga mengekspor sebagian besar pasokan global amonia, pupuk, belerang, dan aluminium.
Dampak Perang terhadap Pembangunan
Al-Mashat mengatakan sebelum perang AS-Iran, sembilan dari 22 negara Arab telah berada dalam konflik atau mulai keluar dari konflik, dengan infrastruktur rusak, ruang fiskal terbatas, serta ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan bahan bakar.Menurutnya, negara-negara di kawasan tersebut telah berupaya melakukan diversifikasi struktur ekonomi. Namun, perang berisiko menunda investasi yang diperlukan untuk mendukung pembangunan.
Ia menekankan pentingnya koridor maritim yang aman sebagai persoalan pembangunan dan keamanan kolektif, bukan semata-mata isu militer.
Al-Mashat menyerukan langkah pencegahan dan perencanaan regional untuk menghadapi krisis, alih-alih menunggu gangguan yang lebih besar.
Ia mengusulkan tiga pilar tindakan yang saling berkaitan, yakni menjaga kebebasan navigasi dan keselamatan kapal sipil serta komersial sesuai hukum internasional, mencegah eskalasi konflik dan membatasi dampak lintas batas, serta memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan regional.
"Pertama, menjaga kebebasan navigasi dan memastikan keselamatan kapal sipil dan komersial serta keamanan jalur maritim sesuai dengan hukum internasional," kata Al-Mashat.
Ia juga menyerukan penguatan kesiapsiagaan regional untuk melindungi pasokan dan memastikan keberlanjutan layanan penting.
Perang AS-Iran
AS bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran pada 28 Februari.Serangan awal tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah besar pimpinan militer dan politik senior Iran, bersama ratusan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Arab Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Serangan balasan tersebut juga mencakup penguasaan efektif atas Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima minyak dunia.
Perkiraan ESCWA tersebut menunjukkan dampak ekonomi konflik terhadap negara-negara Arab melampaui negara-negara yang terlibat langsung dalam perang.