Ilustrasi perdagangan saham di BEI. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Hari Ini Naik 1,10% ke Level 6.162, Ini Sentimen Penggeraknya
Ade Hapsari Lestarini • 22 May 2026 16:31
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini melesat ke zona hijau. Kinerja IHSG terpantau perkasa di akhir pekan.
Mengacu data RTI, Jumat, 22 Mei 2025, IHSG naik 67,104 poin atau setara 1,10 persen ke posisi 6.162. Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di posisi 6.065.
Sementara itu, IHSG sempat berada di level terendah yaitu 5.966. Sedangkan untuk level tertinggi adalah 6.171. Total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 40,268 miliar lembar senilai Rp21,556 triliun.
Sore ini, tercatat 449 saham bergerak menguat. Namun sebanyak 251 saham melemah dan 118 saham lainnya stagnan. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10,658 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.970.653 kali.
Baca Juga :
IHSG Dibuka Level ke 6.065
IHSG bergerak volatil
Pada perdagangan hari ini, sebelumnya IHSG berpotensi bergerak volatil dipicu oleh kombinasi sentimen dari domestik dan global.
"Untuk perdagangan hari ini, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan volatil," ujar analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana, dilansir Antara, Jumat, 22 Mei 2026.
Hendra menjelaskan, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
"Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support 6.000," ujar Hendra.
Di sisi lain, Ia melanjutkan, setelah koreksi yang sangat dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang technical rebound jangka pendek juga mulai terbuka terutama apabila muncul bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah mengalami oversold.
"Pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market," ujar Hendra.
Dalam jangka pendek, Hendra menjelaskan pelaku pasar sebaiknya mulai fokus terhadap saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.
Secara teknikal, Hendra menjelaskan posisi IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam hingga menembus area support penting 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi.
"Saat ini area 6.000 menjadi support psikologis yang sangat krusial. Jika level tersebut ditembus, maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 5.880–5.900 sebagai support berikutnya," ujar Hendra.