Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Kali Hari Ini, Status Siaga

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terekam CCTV PVMBG pada Sabtu (22/8/2026) pukul 18.00 WIB. ANTARA/HO-PVMBG

Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Kali Hari Ini, Status Siaga

Lukman Diah Sari • 22 August 2026 20:23

Lampung Selatan: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sembilan kali letusan dari kawah Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Ketinggian erupsi bervariasi antara 200 hingga 400 meter sejak pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB, dengan kolom asap tebal berwarna kelabu hingga hitam.

"Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif, sehingga potensi erupsi susulan masih dapat terjadi," ujar Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, Sabtu, 22 Agustus 2026, melansir Antara.

Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan.

"Erupsi terekam melalui tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo 2-47 milimeter dan durasi 7 hingga 1.590 detik," jelasnya.

Menurut Suwarno, peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi sejak awal Juli menjadi dasar bagi Badan Geologi untuk menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut saat ini masih dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.


Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang timbul akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.

"Nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau," tegasnya.

Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca sebelum melaut. Warga juga diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada saluran resmi lembaga berwenang.

(Lukman Diah Sari)