'Chicago The Musical' Resmi Dipentaskan di Jakarta, Hadirkan Kisah Klasik yang Tetap Relevan

Salah satu adegan Chicago The Musical yang menyoroti dinamika karakter dalam pusaran ambisi dan sensasi media. (Foto: Dok. Ist)

'Chicago The Musical' Resmi Dipentaskan di Jakarta, Hadirkan Kisah Klasik yang Tetap Relevan

Patrick Pinaria • 9 April 2026 11:38

Jakarta: 'Chicago The Musical’ akhirnya dimulai. Kehadiran pertunjukan ini menjadi refleksi penting untuk memahami kebenaran, citra, dan persepsi saling bertabrakan dalam kehidupan modern di tengah derasnya arus informasi dan opini publik.

Malam pembukaan di Graha Bhakti Bhakti, Taman Ismail Marzuki, langsung membawa penonton ke dalam kisah Roxie Hart dan Velma Kelly. Dua karakter yang terjebak dalam pusaran ambisi, sensasi media, dan manipulasi citra.

Dengan dialog yang tajam, koreografi khas Bob Fosse yang presisi, serta iringan musik jazz yang kuat, pertunjukan ini menghadirkan kisah yang terasa dekat dengan realitas modern. Lebih dari sekadar musikal, Chicago The Musical menjadi cermin tentang bagaimana kebenaran, popularitas, dan kekuasaan sering kali saling berkelindan dalam kehidupan publik.

Dipimpin oleh Sutradara dan Produser Aldafi Adnan, produksi ini berhasil mengadaptasi karya Broadway legendaris ke dalam konteks lokal tanpa kehilangan esensi aslinya. Dengan deretan performer berbakat seperti Putri Indam Kamila (Roxie Hart), Galabby (Velma Kelly), dan Gusty Pratama (Billy Flynn), pertunjukan ini menampilkan kualitas triple threat: akting, vokal, dan tari yang solid. Didukung oleh arahan musik Ivan Tangkulung serta koreografi oleh Hamada Abdool, Chicago The Musical tampil sebagai produksi yang matang secara artistik dan teknis.
 

Ketika fiksi terasa seperti berita hari ini

Pertunjukan Chicago The Musical terasa begitu kontemporer. Bukan hanya karena estetikanya, melainkan cerminan yang ditawarkannya tentang cara masyarakat merespons skandal, kejahatan, dan ketenaran. Galabby, pemeran Velma Kelly dalam produksi ini, menangkap relevansi itu dengan tajam.

"Di Indonesia, netizen itu cepat tanggap. Ada berita, langsung bersuara lewat media sosial. Orang yang awalnya tidak bersalah pun terpaksa klarifikasi, persis seperti yang terjadi di panggung Chicago The Musical," ujar Galabby.

Pandangan yang sama datang dari Aldafi Adnan, Sutradara sekaligus Produser produksi ini. 

"Meskipun musikal ini berlatar di Amerika tahun 1920-an, tema-tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan kita hari ini: kita juga hidup di tengah era di mana cerita dapat dibentuk oleh persepsi, popularitas, dan panggung media. Dalam konteks ini, Chicago The Musical menjadi sangat relevan, mengajak kita untuk tertawa, terhibur, namun sekaligus merenung tentang bagaimana masyarakat sering kali terpesona oleh glamor drama dan skandal," ujar Aldafi.
 

Faktor-faktor itu lah yang membuat pertunjukan ini lebih dari sekadar tontonan. Ia menyentuh sesuatu yang sudah familiar, sebuah dunia di mana sensasi menjadi komoditas, dan kebenaran menjadi pilihan.
 

Koreografi yang bukan hanya mengiringi, tapi bercerita

Salah satu kekuatan terbesar Chicago The Musical adalah cara koreografinya tidak berdiri terpisah dari narasi, melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita itu sendiri. Hamada Abdool, koreografer produksi ini, menjelaskan bagaimana kompleksitas itu terbangun, terutama dalam scene yang menjadi ikon produksi.

"Di 'Cell Block Tango', ada enam karakter yang masing-masing menceritakan kasus pembunuhan mereka sendiri, sementara cast lain terus bergerak dan bernyanyi di latar. Koreografinya tidak hanya mengiringi cerita. Koreografinya adalah ceritanya," ucap Hamada Abdool.

Tantangan itu dirasakan langsung oleh para cast. "Yang paling menantang adalah bagaimana mencerminkan akting, vokal, dan tari Chicago The Musical dari Amerika ke Indonesia bisa menyentuh audiens dan terasa relevan di kehidupan Indonesia sehari-hari," ujar Putri, pemeran Roxie Hart.

Bagi penonton yang terbiasa menonton pertunjukan di mana tarian adalah jeda dari narasi, Chicago The Musical akan menjadi pengalaman yang berbeda. Sebuah kesadaran bahwa setiap gerakan menyimpan makna, setiap formasi adalah argumen, setiap langkah adalah emosi yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.

Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah percakapan tentang ambisi dan manipulasi, tentang citra yang mengalahkan kebenaran, tentang bagaimana seseorang bisa tampak bersalah atau tak bersalah hanya bergantung pada siapa yang menceritakan kisahnya. Sebuah percakapan yang, mungkin, sudah lama kita butuhkan.

Chicago The Musical akan dipentaskan pada 8-12 April 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan produksi musikal kelas dunia ini secara langsung dan merasakan pengalaman panggung yang menggugah sekaligus menghibur. Tiket tersedia melalui: http://goers.co/chicagothemusical2026. Akses informasi terbaru melalui Instagram @by.adpro.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)