Bidan Asri. (Metrotvnews.com)
Kisah Bidan Asri, Menjaga Warisan Tapis Lampung
Imam Setiawan • 10 April 2026 20:10
Lampung: Pagi itu, Asri berdiri di ruang puskesmas dengan seragam putihnya, melayani pasien seperti biasa. Dengan ketelitian dan kesabaran, ia memastikan setiap warga yang datang mendapatkan pelayanan yang layak.
Namun, tak banyak yang tahu, selepas tugasnya usai, tangan yang sama kembali bekerja—bukan memegang alat medis, melainkan merajut benang emas menjadi kain tapis, warisan budaya khas Lampung yang sarat makna.
Perempuan itu menjalani dua dunia dalam satu hari. Di satu sisi, ia adalah tenaga kesehatan yang hadir untuk masyarakat. Di sisi lain, ia adalah perajin yang menjaga tradisi. Di rumahnya, helai demi helai benang disusun dengan ketelitian yang sama seperti saat ia merawat pasien.
Asri merupakan istri dari Kopda Angga Dwi Ferdian, prajurit Yonif 143/TWEJ Kodam II/Sriwijaya, sekaligus ibu dari dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Di tengah berbagai peran tersebut, ia memilih untuk tetap produktif. Bagi Asri, berkarya bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab hidup yang ia jalani dengan kesadaran penuh.

Bidan Asri. (Metrotvnews.com)
Perjalanannya di dunia tapis berakar dari keluarga. Sejak 1992, orang tuanya telah merintis usaha sulam tapis dengan penuh ketekunan. Namun, waktu membawa perubahan. Ketika usia tak lagi memungkinkan untuk terus berproduksi, estafet itu harus diteruskan.
Pada 2023, Asri mengambil keputusan yang tidak sederhana: melanjutkan usaha keluarga. Keputusan itu bukan hanya soal usaha, tetapi juga tentang menjaga warisan nilai—kerja keras, kemandirian, dan ketekunan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
"Saya ingin tetap produktif dari rumah dan membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri," ujarnya.
Namun, bagi Asri, menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Melalui UMKM Asri Tapis Lampung, ia menghadirkan pendekatan baru dengan memadukan batik dan sulaman khas tapis. Inovasi ini membuat tapis tidak lagi terbatas pada acara adat atau momen formal, tetapi juga dapat dikenakan dalam keseharian tanpa kehilangan identitasnya.

Tapis Lampung. (metrotvnews.com/Imam S)
Usaha yang dirintisnya tidak langsung berkembang besar. Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, Asri memulai secara bertahap. Ia belajar mengelola produksi, memahami strategi pemasaran, hingga mengatur keuangan usaha. Berbagai tantangan dihadapi, mulai dari menjaga kualitas hingga memperluas pasar.
Dukungan dari lingkungan sekitar turut menguatkan langkahnya. Apresiasi datang dari organisasi Persit KCK Daerah II/Sriwijaya yang menilai upaya Asri tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Kini, Asri Tapis Lampung tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar. Tujuh orang karyawan terlibat dalam proses produksi, menjadikan usaha ini sebagai ruang tumbuh bersama.
Bagi Asri, keberhasilan bukan semata soal angka penjualan. Ia ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai tapis sebagai identitas budaya daerah. Ia juga ingin membuktikan bahwa kain tradisional mampu tetap relevan dan bersaing di tengah perkembangan zaman.
Hari-hari Asri mungkin tidak pernah benar-benar ringan. Dari ruang puskesmas ke ruang produksi, dari peran sebagai tenaga kesehatan hingga pelaku UMKM, ia menjalani semuanya dalam satu tarikan napas.
Di tangannya, tapis bukan sekadar kain. Ia adalah cerita tentang ketekunan, keberanian, dan upaya menjaga jati diri Lampung di tengah arus perubahan.