Gulingkan Orban, PM Terpilih Hongaria Peter Magyar Janjikan Era Baru

Perdana Menteri terpilih Hongaria Peter Magyar. (Anadolu Agency)

Gulingkan Orban, PM Terpilih Hongaria Peter Magyar Janjikan Era Baru

Dimas Chairullah • 14 April 2026 17:33

Budapest: Perdana Menteri terpilih Hongaria, Peter Magyar, berjanji untuk membawa negaranya menuju "era baru" usai dirinya mengalahkan petahana Viktor Orban dalam pemilihan umum pekan lalu.

Melansir laporan Hurriyet Daily, Selasa, 14 April 2026, Orban yang kerap menyebut dirinya sebagai "duri" bagi Uni Eropa (UE) dan memiliki kedekatan dengan Moskow serta Presiden AS Donald Trump, harus lengser setelah 16 tahun berkuasa penuh.

Rakyat Hongaria yang muak dengan korupsi memberikan kemenangan menentukan bagi Partai Tisza yang dipimpin Magyar. Partai beraliran konservatif tersebut berhasil mengamankan dua pertiga mayoritas di parlemen, diiringi dengan tingkat partisipasi pemilih yang memecahkan rekor nasional.

"Kami akan melakukan segala daya kami untuk memastikan dimulainya era baru," tegas Magyar yang kini berusia 45 tahun, seperti dikutip dari Hurriyet Daily News, Selasa, 14 April 2026.

Reformasi Komprehensif

Ia mendeklarasikan bahwa rakyat Hongaria tidak sekadar memberikan suara untuk pergantian pemerintahan, melainkan untuk sebuah "perubahan rezim yang menyeluruh."

Sebagai langkah reformasi awal, Magyar berjanji akan membatasi masa jabatan perdana menteri menjadi maksimal dua periode atau total delapan tahun. Waktu tersebut hanya setengah dari durasi kekuasaan Orban.

Selama berkuasa sejak 2010, Orban tercatat telah mengubah negara berpenduduk 9,5 juta jiwa itu menjadi "demokrasi iliberal" yang membatasi hak sipil, kebebasan media, hingga independensi peradilan. Imbasnya, Brussels sempat membekukan kucuran dana miliaran Euro untuk Hongaria atas dasar pelanggaran supremasi hukum.

Menyikapi hal tersebut, Magyar menyatakan kesiapannya untuk melakukan reformasi komprehensif, termasuk langkah antikorupsi yang kuat, guna mencairkan kembali dana bantuan UE. Ia juga mendesak Presiden Tamas Sulyok, yang dikenal sebagai sekutu Orban, untuk segera menggelar sidang parlemen.

"Negara kita tidak punya waktu untuk disia-siakan. Hongaria sedang dalam masalah dalam segala aspek. Negara ini telah dijarah, dirampok, dikhianati, dililit utang, dan dihancurkan," keluh Magyar kepada wartawan.

Reaksi Eropa

Kemenangan tokoh pro-UE ini disambut hangat oleh banyak pemimpin di daratan Eropa. Di saat yang sama, Kremlin menyatakan harapannya untuk menjalin hubungan "pragmatis" dengan pemerintahan baru, sementara Tiongkok turut memberikan ucapan selamat. Magyar merespons dengan berterima kasih kepada Moskow dan Beijing karena bersikap terbuka terhadap kerja sama pragmatis.

Di Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance yang sempat terbang ke Hongaria untuk menghadiri kampanye Orban pekan lalu mengaku "sedih" atas kekalahan sekutunya tersebut. Namun, Vance berjanji Washington akan tetap bekerja sama dengan pemerintahan yang baru.

Sebaliknya, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyebut hasil pemilu ini sebagai "kekalahan signifikan bagi (Presiden Rusia Vladimir) Putin, bagi Trump, dan bagi kekuatan otoritarianisme di seluruh dunia."

Menariknya, di balik sikap pro-Eropa yang ia usung, Magyar rupanya memiliki pandangan yang sama dengan Orban terkait konflik di Ukraina.

Mengutip Hurriyet Daily News, Magyar secara tegas menolak pengiriman bantuan militer UE ke Ukraina dan menentang pemberian jalur cepat bagi Kyiv untuk bergabung dengan blok 27 negara tersebut.

"Kita berbicara tentang negara yang sedang berperang. Sangat tidak mungkin bagi Uni Eropa untuk menerima negara yang sedang berperang," tegasnya.

Baca juga: Mengenal Péter Magyar, 'Kuda Hitam' yang Lengserkan Viktor Orban di Hongaria

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)