Kementerian ESDM Hitung Peluang Penambahan Kuota BBM Bersubsidi

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman. (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Kementerian ESDM Hitung Peluang Penambahan Kuota BBM Bersubsidi

Eko Nordiansyah • 17 September 2026 11:40

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti pertalite dan biosolar, berkaca dari pola konsumsi masyarakat setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi.

“Tetap dilakukan perhitungan-perhitungan, khususnya untuk solar, ya. Solar subsidi. Sepertinya akan ada penambahan kuota,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika dijumpai setelah Rapat Kerja Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 16 September 2026.

Laode menyampaikan terdapat peningkatan konsumsi BBM bersubsidi dari masyarakat. Selain itu, El Nino turut berkontribusi sebagai penyebab antrean panjang pembelian BBM bersubsidi.

Ia menjelaskan bahwa El Nino berdampak pada distribusi BBM, termasuk BBM bersubsidi, akibat sungai-sungai yang menjadi dangkal, bahkan mengering, di sejumlah wilayah, seperti yang terjadi di Kalimantan.

Imbasnya, distribusi BBM yang semula menggunakan kapal, lantas diganti menjadi distribusi melalui jalur darat menggunakan truk tangki.

“Ketibaan truknya kan nggak secepat kalau kami kirim lewat sungai. Jadi, dia (truk tangki) membutuhkan waktu. Makanya ada waktu tunggu yang harus disiapkan di SPBU-SPBU itu,” ucap Laode.

Penambahan waktu tunggu tersebut, kata Laode, yang kemudian menyebabkan penumpukan antrean pembeli BBM.

“Ini yang kami imbau kepada masyarakat, bahwa jangan khawatir. Barangnya ada,” kata Laode.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Konsumsi pertalite naik pada Juli

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi pertalite naik hingga 12,92 persen pada Juli 2026, tepatnya sebulan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan rata-rata penyaluran pertalite sebelum terjadinya kenaikan harga pertamax adalah 75.795 kiloliter (kl) per hari. Akan tetapi, setelah harga pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, terjadi lonjakan rata-rata penyaluran pertalite.

Pada 10 Juni 2026, konsumsi pertalite tercatat sebanyak 82.760 kl per hari, naik 9,19 persen dengan selisih 6.965 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.

Kemudian, pada Juli 2026, kenaikan konsumsi pertalite kembali terjadi, yakni sebanyak 85.589 kl per hari, naik 12,92 persen dengan selisih 9.794 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.

Pada periode Agustus, ujar Wahyudi, terjadi penurunan konsumsi pertalite apabila dibandingkan Juli. Rata-rata penyaluran pertalite pada bulan Agustus berada di kisaran 84.368 kl per hari, lebih rendah dibandingkan dengan Juli.

(Eko Nordiansyah)